Trading Commodities Gold Silver Community Group on Facebook.com


My Simple Money Management for Gold and Silver Trading on Marketiva and InstaForex


Klik disini untuk bergabung di Forum Forex Indonesia yang khusus berdiskusi tentang Trading Gold bersama Ribuan Trader Gold diseluruh Indonesia



Just for Introduction from me...

FOREX FORUM THAT'S PAY YOU FOR POSTING...! = $ 0.20 USD/POST

Hi, I am Ayahama. I am an InstaForex Partner and I am a Pinbar Trader. You can learn about Pinbar on my other site here.

If you are new on Forex, then first of all (before you decide open an forex trading account), please consider to learn more about forex on Forex Forum. And I recomended you to Join this Very Useful Forex Forum. In that forum, you can post a questions about all you want to know about forex trading. I am sure, in a short time - your question will be answer by someone whose was expert on forex trading and give the useful answer for your question.

And the unique of that forum is : For every your post, it is will be pay to you about $ 0.20 USD. For example on January - you had make post for about 20 post. It is mean on the first February your forex account will be creditted about $ 4 USD. How about you can post 100 post every month? - Just use your Calculator to sum your bonus !.

Ok. if you are interested to join this forex forum, just clik here and follow to signup (Good luck).

If you are have any question, please tell me - I am on Facebook - click here.

Regards,

AYAHAMA




Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

www.libertyreserve.com

Friday, June 05, 2009

Backup Dokumentasi Teknik Budidaya Belut (1)

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA BELUT DAN PERNAK-PERNIKNYA Juli 7, 2008 oleh sutanmuda Perlu diketahui bahwa kolam budidaya ikan belut harus dibedakan antara lain:  Kolam induk/kolam pemijahan (kapasitasnya 6 ekor/m2)  Kolam pendederan (untuk benih belut berukuran 1 - 2 cm) - daya tampungnya 500 ekor/m2.  Kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3 - 5 cm) - daya tampungnya 250 ekor/m2.  Kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu :  Untuk pemeliharaan belut kurang 5 - 8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm (daya tampungnya 100 ekor/m2).  Untuk pemeliharan belut dengan ukuran 15 - 20 cm sampai menjadi ukuran 30 - 40 cm (daya tampungnya 50 ekor/m2). Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Dipelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan. Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibit diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam. Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran 30 cm dan belut jantan berukuran 40 cm. Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari untuk bertelur. Setelah telur menetas dan berumur 5 - 8 hari, ukuran anak belut berkisar 1,5 - 2,5 cm. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama 1 (satu) bulan sampai berukuran 5 - 8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan. Perlakuan dan perawatan bibit dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir. Pemupukan jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran dan pupuk kandang sebagai bahan organik utama. Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat besar (belatung) setiap 10 hari sekali. Pemeliharaan kolam dan tambak yang perlu diperhatikan adalah gangguan dari luar dan dalam kolam agar tidak beracun. Pemanenan belut dapat berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan. Atau juga berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besar/panjang sesuai dengan permintaan pasar/konsumen). Cara penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan peralatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing/kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja. Sumber : Majalah Demersal - Media belut, Oleh ardyant Disamping ukuran dan persyaratan lahan juga dilengkapi dengan media pemeliharaan dengan urutan dan ukuran antara lain sebagai berikut : 1. Jerami setinggi 30 cm. 2. Pupuk Urea 5 kg dan NPK 5 kg (kolam berukuran 500 cm X 500 cm atau perbandingannya). 3. Lumpur/tanah setinggi 5 cm. 4. Pupuk Kandang setinggi 5 cm. 5. Pupuk kompos setinggi 5 cm. 6. Lumpur/tanah setinggi 5 cm. 7. Cincangan Batang Pisang setinggi 10 cm. 8. Lumpur/tanah setinggi 15 cm. 9. Air setinggi 3-4 cm. Untuk Kolam baru dari semen. Media pemeliharaan ini didiamkan agar terjadi proses permentasi selama kurang lebih dua minggu, sehingga siap untuk ditaburi bibit/benih belut yang akan dibudidayakan. Kolam semen yang baru.. kl udah kering di rendam pake air selama 1 hari, kemudian air di kuras dan di gosok pake pelepah pisang sampe berbuih..kemudian diamkan sampe kering,kemudian bilas pake air bilas sampe bersih, kemudian isi dengan kompos dan isi pake air diamkan selama 1 minggu… pastee beresss. kana cepet berlumut dan Muantaab kaleee Salam kenal buat kita semua. Saya lokasinya dimedan tepatnya di pinggiran kota (Tanjung Morawa) pengen coba untuk membudidayakan belut. Gimana saya bisa dapat pasokan bibit unggul yah untuk daerah medan? ada gak yang supply bibit belut didaerah sumatera utara? Jika tdk ada, gimana caranya supaya bisa dapaetin bibit ini via Bapak Ardy? mohon saran donk bagi yang tau, Please email di: welson8 0@yahoo.com atau di welson @welsindo.com thanks, welson Medan hp: 081163 9746 Sekedar informasi dari kami Beluters Banyumas… Pada dasarnya kami mempunyai masalah yang sama dengan rekan2 sekalian.. yaitu setelah tebar banyak bibit yang mati.. setelah cari informasi sana-sini akhirnya pak mumung selaku koordinator harian mendapat informasi dari dinas peternakan yang memberi saran agar kolam segera beri air remasan daun pepaya dengan tujuan menggantikan lendir yang terbuang selama perjalanan. Selama perjalanan memang belut selalu mengeluarkan lendir. Insya Allah kami dari gobelut Banyumas akan ada pertemuan dengan Dinas Peternakan Wilayah Banyumas. Masalah waktu dan tempat masih kami cari yang tepat. Note : Daun pepaya dapat diganti dengan daun kembang sepatu. caranya dikremes-kremes sampai air berwarna hijau kenthel dan langsung ditaburkan ke kolam… mudah-mudahan bermanfaat, Mardi. PASAR BELUT DI HONGKONG 60 TON PER HARI Siang itu Juli 2006 di Batutulis, Bogor, pancaran matahari terik membuat Ruslan Roy harus berteduh. Ia tetap awas melihat kesibukan pekerja yang memilah belut ke dalam 100 boks styrofoam. Itu baru 3,5 ton dari permintaan Hongkong yang mencapai 60 ton/hari, ujar Ruslan Roy. Alumnus Universitras Padjadjaran Bandung itu memang kelimpungan memenuhi permintaan belut dari eksportir. Selama ini ia hanya mengandalkan pasokan belut dari alam yang terbatas. Sampai kapan pun tidak bisa memenuhi permintaan, ujarnya. Sebab itu pula ia mulai merintis budi daya belut dengan menebar 40 kg bibit pada Juli 1989. Roy-panggilan akrab Ruslan Roy-memperkirakan seminggu setelah peringatan Hari Kemerdekaan ke-61 RI semua Monopterus albus yang dibudidayakan di kolam seluas 25 m2 itu siap panen. Ukuran yang diminta eksportir untuk belut konsumsi sekitar 400 g/ekor. Bila waktu itu tiba, eksportir di Tangerang yang jauh-jauh hari menginden akan menampung seluruh hasil panen. Untuk mengejar ukuran konsumsi, peternak di Jakarta Selatan itu memberi pakan alami berprotein tinggi seperti cacing tanah, potongan ikan laut, dan keong mas. Pakan itu dirajang dan diberikan sebanyak 5% dari bobot tubuh/hari. Dengan asumsi tingkat kematian 5-10% hingga berumur 9 bulan, Roy menghitung 4-5 bulan setelah menebar bibit, ia bakal memanen 400 kg belut. Dengan harga Rp40.000/kg, total pendapatan yang diraup Rp 16 juta. Setelah dikurangi biaya-biaya sekitar Rp 2 juta, diperoleh laba bersih Rp 14 juta. Keuntungan itu akan semakin melambung karena pada saat yang sama Roy membuat 75 kolam di Rancamaya, Bogor, masing-masing berukuran sekitar 25 m2 berkedalaman 1 m. Pantas suami Kastini itu berani melepas pekerjaannya sebagai konsultan keuangan di Jakarta Pusat. Perluas areal Nun di Bandung, Ir R M Son Son Sundoro, lebih dahulu menikmati keuntungan hasil pembesaran belut. Itu setelah ia dan temannya sukses memasok ke beberapa negara. Sebut saja Hongkong, Taiwan, Cina, Jepang, Korea, Malaysia, dan Thailand. Menurut Son Son pasar belut mancanegara tidak terbatas. Oleh karena itu demi menjaga kontinuitas pasokan, ia dan eksportir membuat perjanjian di atas kertas bermaterai. Maksudnya agar importir mendapat jaminan pasokan. Sejak 1998, alumnus Teknik dan Manajemen Industri di Institut Teknologi Indonesia, itu rutin menyetor 3 ton/hari ke eksportir. Itu dipenuhi dari 30 kolam berukuran 5 m x 5 m di Majalengka, Ciwidey, Rancaekek, dan 200 kolam plasma binaan di Jawa Barat. Ia mematok harga belut ke eksportir 4-5 US$, setara Rp 40.000-Rp 60.000/kg isi 10-15 ekor. Sementara harga di tingkat petani plasma Rp 20.000/kg. Sumber: Drs Ruslan Roy, MM, Ir R. M. Son Son Sundoro, www.eelstheband.com, dan telah diolah dari berbagai sumber. Terhitung mulai Juli 2006, total pasokan meningkat drastis menjadi 50 ton per hari. Itu diperoleh setelah pria 39 tahun itu membuka kerja sama dengan para peternak di dalam dan luar Pulau Jawa. Awal 2006 ia membuka kolam pembesaran seluas 168 m2 di Payakumbuh, Sumatera Barat. Di tempat lain, penggemar travelling itu juga membuka 110 kolam jaring apung masing-masing seluas 21 m2 di Waduk Cirata, Kabupaten Bandung. Total jenderal 1 juta bibit belut ditebar bertahap di jaring apung agar panen berlangsung kontinu setiap minggu. Dengan volume sebesar itu, ayah tiga putri itu memperkirakan keuntungan sebesar US$2.500 atau Rp 20.500.000 per hari. Di Majalengka, Jawa Barat, Muhammad Ara Giwangkara juga menuai laba dari pembesaran belut. Sarjana filsafat dari IAIN Sunan Gunungjati, Bandung, itu akhir Desember 2005 membeli 400 kg bibit dari seorang plasma di Bandung seharga Rp 11,5 juta. Bibit-bibit itu kemudian dipelihara di 10 kolam bersekat asbes berukuran 5 m x 5 m. Berselang empat bulan, belut berukuran konsumsi, 35-40 cm, sudah bisa dipanen. Dengan persentase kematian dari burayak hingga siap panen 4%, Ara bisa menjual sekitar 3.000 kg belut. Karena bermitra, ia mendapat harga jual Rp12.500/kg. Setelah dikurangi ongkos perawatan dan operasional sebesar Rp 9 juta dan pembelian bibit baru sebesar Rp 11,5 juta, tabungan Ara bertambah Rp17 juta. Bagi Ara hasil itu sungguh luar biasa, sebab dengan pendapatan Rp 3 juta-Rp 4 juta per bulan, ia sudah bisa melebihi gaji pegawai negeri golongan IV. Bibit meroket Gurihnya bisnis belut tidak hanya dirasakan peternak pembesar. Peternak pendeder yang memproduksi bibit berumur tiga bulan turut terciprat rezeki. Justru di situlah terbuka peluang mendapatkan laba relatif singkat. Apalagi kini harga bibit semakin meroket. Kalau dulu Rp 10.000/kg, sekarang rata-rata Rp 27.500/kg, tergantung kualitas, ujar Hj Komalasari, penyedia bibit di Sukabumi, Jawa Barat. Ia menjual minimal 400-500 kg bibit/bulan sejak awal 1985 hingga sekarang. Pendeder pun tak perlu takut mencari pasar. Mereka bisa memilih cara bermitra atau nonmitra. Keuntungan pendeder bermitra: memiliki jaminan pasar yang pasti dari penampung. Yang nonmitra, selain bebas menjual eceran, pun bisa menyetor ke penampung dengan harga jual lebih rendah 20-30% daripada bermitra. Toh, semua tetap menuai untung. Sukses Son Son, Ruslan, Ara, dan Komalasari memproduksi dan memasarkan belut sekarang ini bak bumi dan langit dibandingkan delapan tahun lalu. Siapa yang berani menjamin kalau belut booming gampang menjualnya, ujar Eka Budianta, pengamat agribisnis di Jakarta. Menurut Eka, memang belut segar kini semakin dicari, bahkan harganya semakin melambung jika sudah masuk ke restoran. Untuk harga satu porsi unagi-hidangan belut segar-di restoran Jepang yang cukup bergengsi di Jakarta Selatan mencapai Rp 250.000. Apalagi bila dibeli di Tokyo, Osaka, maupun di restoran Jepang di kota-kota besar dunia. Dengan demikian boleh jadi banyak yang mengendus peluang bisnis belut yang kini pasarnya menganga lebar. Maklum pasokan belut-bibit maupun ukuran konsumsi-sangat minim, sedangkan permintaannya membludak. (Hermansyah/Peliput: Lani Marliani) EMPAT BULAN PANEN BELUT Membesarkan belut hingga siap panen dari bibit umur 1-3 bulan butuh waktu tujuh bulan. Namun, Ruslan Roy, peternak sekaligus eksportir di Jakarta Selatan, mampu menyingkatnya menjadi empat bulan. Kunci suksesnya antara lain terletak pada media dan pengaturan pakan. Belut yang dipanen Ruslan rata-rata berbobot 400 g/ekor. Itu artinya sama dengan bobot belut yang dihasilkan peternak lain. Cuma waktu pemeliharaan yang dilakukan Ruslan lebih singkat tiga bulan dibanding mereka. Oleh karena itu, biaya yang dikeluarkan Ruslan pun jauh lebih rendah. Selain menekan biaya produksi, panen dalam waktu singkat itu mampu mendongkrak ketersediaan pasokan, ujar Ruslan. Pemilik PT Dapetin di Jakarta Selatan itu hanya mengeluarkan biaya Rp 8.000 untuk setiap kolam berisi 200 ekor. Padahal, biasanya para peternak lain paling tidak menggelontorkan Rp 14.000 untuk pembesaran jumlah yang sama. Semua itu karena Ruslan menggunakan media campuran untuk pembesarannya. Media campuran Menurut Ruslan, belut akan cepat besar jika medianya cocok. Media yang digunakan ayah tiga anak itu terdiri dari lumpur kering, kompos, jerami padi, pupuk TSP, dan mikroorganisme stater. Peletakkannya diatur: bagian dasar kolam dilapisi jerami setebal 50 cm. Di atas jerami disiramkan 1 liter mikroorganisma stater. Berikutnya kompos setinggi 5 cm. Media teratas adalah lumpur kering setinggi 25 cm yang sudah dicampur pupuk TSP sebanyak 5 kg. Karena belut tetap memerlukan air sebagai habitat hidupnya, kolam diberi air sampai ketinggian 15 cm dari media teratas. Jangan lupa tanami eceng gondok sebagai tempat bersembunyi belut. Eceng gondok harus menutupi ¾ besar kolam, ujar peraih gelar Master of Management dari Philipine University itu. Bibit belut tidak serta-merta dimasukkan. Media dalam kolam perlu didiamkan selama dua minggu agar terjadi fermentasi. Media yang sudah terfermentasi akan menyediakan sumber pakan alami seperti jentik nyamuk, zooplankton, cacing, dan jasad-jasad renik. Setelah itu baru bibit dimasukkan. Pakan hidup Berdasarkan pengalaman Ruslan, sifat kanibalisme yang dimiliki Belut (Monopterus albus) itu tidak terjadi selama pembesaran. Asal, pakan tersedia dalam jumlah cukup. Saat masih anakan belut tidak akan saling mengganggu. Sifat kanibal muncul saat belut berumur 10 bulan, ujarnya. Sebab itu tidak perlu khawatir memasukkan bibit dalam jumlah besar hingga ribuan ekor. “Dalam 1 kolam berukuran 5 m x 5 m x 1 m, saya dapat memasukkan hingga 9.400 bibit,” katanya. Pakan yang diberikan harus segar dan hidup, seperti ikan cetol, ikan impun, bibit ikan mas, cacing tanah, belatung, dan bekicot. Pakan diberikan minimal sehari sekali di atas pukul 17.00. Untuk menambah nafsu makan dapat diberi temulawak Curcuma xanthorhiza. Sekitar 200 gram temulawak ditumbuk lalu direbus dengan 1 liter air. Setelah dingin, air rebusan dituang ke kolam pembesaran. “Pilih tempat yang biasanya belut bersembunyi,” ujar Ruslan. Pelet ikan dapat diberikan sebagai pakan selingan untuk memacu pertumbuhan. Pemberiannya ditaburkan ke seluruh area kolam. Tak sampai beberapa menit biasanya anakan belut segera menyantapnya. Pelet diberikan maksimal tiga kali seminggu. Dosisnya 5% dari bobot bibit yang ditebar. Jika bibit yang ditebar 40 kg, pelet yang diberikan sekitar 2 kg. Hujan buatan Selain pakan, yang perlu diperhatikan kualitas air. Bibit belut menyukai pH 5-7. Selama pembesaran, perubahan air menjadi basa sering terjadi di kolam. Air basa akan tampak merah kecokelatan. Penyebabnya antara lain tingginya kadar amonia seiring bertumpuknya sisa-sisa pakan dan dekomposisi hasil metabolisme. Belut yang hidup dalam kondisi itu akan cepat mati, ujar Son Son. Untuk mengatasinya, pH air perlu rutin diukur. Jika terjadi perubahan, segera beri penetralisir. Kehadiran hama seperti burung belibis, bebek, dan berang-berang perlu diwaspadai. Mereka biasanya spontan masuk jika kondisi kolam dibiarkan tak terawat. Kehadiran mereka sedikit-banyak turut mendongkrak naiknya pH karena kotoran yang dibuangnya. Hama bisa dihilangkan dengan membuat kondisi kolam rapi dan pengontrolan rutin sehari sekali, tutur Ruslan. Suhu air pun perlu dijaga agar tetap pada kisaran 26-28oC. Peternak di daerah panas bersuhu 29-32oC, seperti Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi, perlu hujan buatan untuk mendapatkan suhu yang ideal. Son Son menggunakan shading net dan hujan buatan untuk bisa mendapat suhu 26oC. Bila terpenuhi pertumbuhan belut dapat maksimal, ujar alumnus Institut Teknologi Indonesia itu. Shading net dipasang di atas kolam agar intensitas cahaya matahari yang masuk berkurang. Selanjutnya tiga saluran selang dipasang di tepi kolam untuk menciptakan hujan buatan. Perlakuan itu dapat menyeimbangkan suhu kolam sekaligus menambah ketersediaan oksigen terlarut. Ketidakseimbangan suhu menyebabkan bibit cepat mati, ucap Son Son. Hal senada diamini Ruslan. Jika tidak bisa membuat hujan buatan, dapat diganti dengan menanam eceng gondok di seluruh permukaan kolam, ujar Ruslan. Dengan cara itu bibit belut tumbuh cepat, hanya dalam tempo 4 bulan sudah siap panen. (Hermansyah) Bak itu sekadar tempat singgah. Setelah 1-2 hari dikarantina, belut yang terkumpul itu disortir. Belut kualitas ekspor dipilih berbobot 200-250 g/ekor dan panjang 40-60 cm. Syarat lain: kulit mulus dan lincah bergerak. Belut kemudian dikemas dalam kantong plastik berdiameter 50 cm, lalu diberi 2 liter air. Satu kantong plastik berisi 20 kg. Setelah diberi oksigen, kantong itu diikat dan dimasukkan ke dalam dus ukuran 70 cm x 70 cm x 60 cm untuk keesokan hari diangkut ke bandara. Ardiyan menerbangkan 4-5 ton/bulan belut ke Singapura, Hongkong, dan Korea. Dengan harga jual US$4,5 atau setara Rp40.950 per kg (kurs 1 US$D=Rp9.100), Ardiyan meraup omzet Rp163,8-juta-Rp204,7-juta/bulan. Setelah dikurangi biaya pembelian belut dari para plasma, ongkos kirim, dan biaya operasional lain, Ardiyan mengutip laba Rp5.000-Rp7.000/kg. Setidaknya Rp20-juta-Rp35-juta mengalir ke koceknya setiap bulan. Jumlah itu tak seberapa dibanding banyaknya permintaan yang terus mengalir. ‘Singapura minta dipasok 1 ton/hari, Hongkong 5-10 ton/pekan, dan Korea 3 ton/hari,’ tutur alumnus Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Solo itu. Beberapa negara Uni Eropa seperti Belanda dan Belgia juga menanti pasokan masing-masing 23 ton dan 20 ton per tahun. Menurut Pusat Informasi Pasar Asia Pasifik Kedutaan Besar Kanada di Beijing, Cina, selain Hongkong dan Korea, negara konsumen belut lainnya adalah Jepang, Amerika Serikat, dan Kanada. Jepang terbesar dengan kebutuhan 130.000-140.000 ton/tahun. Pasokan selama ini diperoleh dari Cina. Negeri Tirai Bambu itu dikenal sebagai produsen belut terbesar di dunia. Ia memasok 70% dari total kebutuhan belut dunia yang mencapai 230.000 ton/tahun. Artinya, ceruk pasar belut dunia yang belum terisi sekitar 69.000 ton per tahun. Badan Pusat Statistik mencatat, volume ekspor dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2004, volume ekspor hanya 42.581 kg. Setahun berikutnya melonjak menjadi 106.687 kg. Permintaan belut tak hanya mengalir dari mancanegara. Ardiyan menuturkan pasar lokal juga menantang. Sentra makanan olahan di Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, butuh pasokan 7-8 ton/hari, Solo dan Klaten 8 ton/hari, dan Jakarta 2 ton/hari. Dari jumlah itu baru sekitar 500-700 kg/bulan yang terpenuhi. Budidaya Peluang itulah yang kini dikejar Ardiyan. Namun, pasokan yang seret menjadi batu sandungan. Padahal harga beli yang ditawarkan cukup menggiurkan, Rp20.000/kg kualitas ekspor. Harga itu jauh lebih tinggi ketimbang harga di pasar lokal, Rp9.000-Rp12.000 per kg. Pasokan seret lantaran Ardiyan mengandalkan belut tangkapan alam. ‘Jumlah peternak belut saat ini masih sedikit,’ katanya. Akibatnya, ketersediaan pasokan bergantung kondisi alam. Pasokan melimpah saat hujan. Saat kemarau sebaliknya. Selain itu, ukuran belut hasil tangkapan alam beragam. ‘Rata-rata hanya 30% yang memenuhi syarat ekspor,’ katanya. Kurangnya pasokan belut membuat PT Budi Menani Agung, eksportir belut di Jakarta, terpaksa mengurangi frekuensi pengiriman ke Cina. Pengiriman yang semula 3 kali seminggu kini hanya 2 kali. Sekali kirim rata-rata mencapai 1 ton. Ardiyan berharap kekurangan pasokan itu dapat dipenuhi para peternak. Oleh sebab itulah ia rela mengunjungi berbagai daerah untuk menjaring peternak mitra. Ardiyan pun menjamin menampung hasil panen. Harga belut kualitas ekspor Rp20.000/kg. Kian ramai Sejak diekspose Trubus pada September 2006, perbincangan bisnis belut di situs Trubus kian ramai. Begitu juga milis-milis di situs lain. Pelatihan budidaya belut yang diselenggarakan selalu kebanjiran peserta. Bahkan, kini berdiri klub budidaya belut yang anggotanya mencapai 105 orang. Kisah sukses Sonson Sundoro, Ruslan Roy, Hj Komalasari, dan M Ara Giwangkara juga turut mendorong minat para investor. (baca: Mari Rebut Pasar Belut, Trubus edisi September 2006). Mereka lebih dulu mendulang laba dari belut. Menurut hitung-hitungan Ardiyan, investasi awal untuk pembuatan kolam terpal luasan 6 m x 7 m sekitar Rp890.000. Ditambah biaya produksi Rp1.529.000, total biaya mencapai Rp2.419.000. Dari 20 kg bibit isi 200-220 ekor/kg, diperkirakan menghasilkan 300 kg setelah 4- 5 bulan pemeliharaan. Dengan harga jual Rp20.000/kg (harga kualitas ekspor), total omzet Rp6-juta. Setelah dikurangi biaya produksi, total keuntungan mencapai Rp3.581.000/musim tebar atau Rp716.200-Rp895.250/bulan. Itu keuntungan di awal investasi. Pada periode tanam berikutnya, laba lebih tinggi yaitu Rp4.471.000V/musim atau Rp894.200-Rp1,1-juta/bulan. Pantas bila para peternak baru bermunculan di berbagai daerah seperti di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Salah satunya Tjandra Warasto di Parung, Bogor, menggelontorkan ratusan juta rupiah untuk membangun 24 kolam permanen berukuran 5 m x 5 m. Pada September 2006, ia menebar 240 kg bibit. ‘Akhir Maret ini diharapkan sudah bisa dipanen,’ kata pengusaha periklanan itu. Nun di Boyolali, Jawa Tengah, Muharni juga tergiur menggeluti belut. Lahan seluas 60 m2 di belakang rumah disulap menjadi 8 kolam berukuran 2 m x 3,5 m. Empat di antaranya telah diisi 49 kg bibit. Ibu 2 anak itu memperkirakan akan panen pada Mei 2007. Di beberapa daerah, kelompok-kelompok pembudidaya belut mulai bermunculan. Dony Fitriandi ST MT, menghimpun 25 peternak di Sragen, Jawa Tengah, untuk mengelola 100 kolam. Arsitek alumnus Universitas Negeri Sebelas Maret itu juga membuat 3 kolam seluas 24 m2. Di Magetan, Jawa Timur, Ardiyan membina plasma yang mengelola 300 kolam. Sarat kendala Sayang, pesatnya laju pertumbuhan peternak belut itu tak diimbangi pasokan bibit yang memadai. Menurut pengalaman beberapa peternak, pembibitan belut sulit. Selain itu, hingga kini belum ada penelitian soal perlakuan yang dapat memacu reproduksi belut. Wajar bibit tangkapan alam diburu. Hal itu turut memicu kenaikan harga. ‘Kalau dulu Rp10.000/kg, sekarang rata-rata Rp27.500/kg,’ ujar Hj Komalasari, penyedia bibit di Sukabumi, Jawa Barat. Bibit alam juga bukan garansi sukses. ‘Dari 100 kg bibit yang ditebar, separuhnya mati,’ kata Catur Budiyanto, peternak di Gunungputri, Bogor. Pengalaman pahit juga dialami Ganjar Ariacipta. Lima belas kilogram bibit yang ditebar di kolam berukuran 3 m x 5 m seluruhnya mati. ‘Mungkin airnya kurang cocok,’ kata peternak di Sadang Serang, Bandung, itu. Ardiyan menduga, bibit mati akibat penangkapan dengan setrum. Arus listrik menyebabkan belut stres. Kalaupun bertahan hidup, pertumbuhannya pasti terhambat. Oleh sebab itu, pilih bibit yang ditangkap dengan bubu. Media matang juga penting. Cirinya:  Air di dalam kolam tidak berubah warna dan tidak berbau  Hindari penebaran bibit dalam jumlah besar  Masukkan dulu 1-5 bibit. Bila belut menelusup ke dalam media, pertanda media siap digunakan. Namun, bila beberapa waktu belut tetap di permukaan, media belum matang benar. Ardiyan menuturkan, teori-teori dan praktek di lapangan seringkali berbenturan. ‘Media yang saya ramu sesuai dengan yang dianjurkan dalam pelatihan. Tetap saja mati,’ kata Catur. ‘Karena itu, peternak mesti berani bereksperimen,’ ujar Ardiyan. Lihat yang dilakukan Wawan, peternak di Bandung. Ia memberi kotoran cacing alias kascing pada media. Alhasil, dari 15 kg bibit berisi 100 ekor/kg, dapat dipanen 75 kg belut berbobot rata-rata 100 g/ekor dalam waktu 4 bulan. Meski Wawan berhasil, tapi tak mudah memasarkan belut. Rona bahagia di wajah Wawan seketika muram saat eksportir yang berjanji menampung panennya susah ditemui. Khawatir belut-belut itu mati, Wawan melepas ke pasar becek dengan harga Rp11.000/kg. Harga itu jauh lebih rendah ketimbang janji muluk eksportir Rp20.000 kg. ‘Saya hanya mengantongi Rp825.000,’ ujar Wawan. Oligopsoni Hasil lacakan Trubus, saat ini baru terdapat 4 eksportir belut: Sonson Sundoro (PT Dapetan Eel Farm, Bandung), Ruslan Roy (PT Dapetin, Jakarta), Ardiyan Taufik (Jakarta dan Solo), dan Hidayat Wijaya (PT Budi Menani Agung, Jakarta). Jumlah eksportir yang masih sedikit itu dikhawatirkan menciptakan kondisi oligopsoni: pemasok bertambah banyak sementara pembeli terbatas. Kondisi itu melemahkan posisi tawar peternak. Bisa dibayangkan apa yang terjadi bila kelak pasar jenuh dan jumlah peternak kian bertambah. Oleh sebab itu, Tjandra tak mau menyandarkan pasar pada para eksportir. Ia giat menciptakan pasar sendiri. Pria 39 tahun itu menampung belut dari para penangkap di seputar Jabodetabek lalu dijual ke pasar lokal. Meski baru beberapa bulan berjalan, kini ia menjual setidaknya 500-1.000 kg/bulan. Dengan begitu, Tjandra berharap pasar belut tetap melaju. (Imam Wiguna/Peliput: Hermansyah) Media Instan: Dari Kantong Jadi Belut Akhir Juli 2006 Chrisno Feryadi menabur 20 kg serbuk kehitaman dalam drum berdiameter 50 cm. Setelah disiram air, lantas diaduk-aduk hingga mirip lumpur. Suspensi itu kemudian didiamkan 2 hari sampai terpecah menjadi dua bagian: endapan serbuk dan air. Saat itu pula 75 bibit belut sepanjang 10-15 cm dimasukkan. Enam bulan kemudian belut-belut itu siap dipanen. Bobot belut yang dipelihara di drum itu rata-rata 200 g/ekor, sama dengan budidaya di kolam. Yang berbeda lama pemeliharaan. Belut di drum perlu waktu 2,5 bulan lebih lama. Hal itu terjadi karena ruang gerak Monopterus albus itu tidak selonggar bila dipelihara di kolam. Toh hal itu tidak menjadi persoalan. Sejak 8 bulan lalu Chrisno dapat beternak belut di sembarang tempat. Drum itu hanya satu contoh. Yang agak ekstrim, Ipenk-panggilan akrab Chrisno-pernah mencoba melakukannya di dalam 3 ember plastik berdiameter 25 cm. Hasilnya bibit belut tumbuh besar. Dalam tempo 6 bulan bobotnya mencapai 150 g/ekor. Semua itu berkat serbuk kehitaman andalan Ipenk yang mudah diaplikasi dan ditenteng ke berbagai lokasi. Serbuk itu adalah media instan kering. Karena praktis-tinggal tabur, siram air, tunggu mengendap, lalu tebar bibit-maka banyak peternak di Sragen dan Boyolali, Jawa Tengah, tertarik. Mereka kagum lantaran bibit belut itu bisa ditebar setelah 2 hari kolam diberi media. Bandingkan dengan cara konvensional. Dari proses pematangan media hingga bibit siap tebar menyita waktu 2-4 minggu. Ganti komposisi Racikan media instan pemangkas waktu tebar bibit itu 70% bahan bakunya sama seperti budidaya konvensional. Yang sulit memperoleh bahan baku dari jerami padi, pelepah pisang, pupuk kandang, dan kompos dengan komposisi pas. Awalnya ayah 2 putra itu merajang jerami padi dan pelepah pisang dengan slicer (semacam pisau) sampai setebal 1 cm. Campuran itu-sebut saja komposisi A. kemudian ditambah campuran pupuk kandang dan kompos-sebut saja komposisi B. Perbandingan antarkomposisi itu dibuat 1:3. Campuran abu-abu kehitaman itu lantas dijemur selama 5 hari berturut-turut hingga kadar airnya sekitar 5%. Tandanya saat diremas tangan langsung hancur layaknya kompos. Sebanyak 120 kg media perdana itu ditabur pada kolam percobaan berukuran 6 m x 3 m. Di sana ditebar pula 2.700 bibit. Saat dipanen 5 bulan kemudian hanya diperoleh 40%, setara 810 belut yang hidup. Hasil itu jauh dari memuaskan bila dibandingkan budidaya konvensional yang tingkat kematiannya berkisar 30%. ‘Mungkin karena adaptasi bibit alam yang kurang,’ ujar staf sumberdaya manusia PT Garuda Indonesia di Jakarta itu. Dugaan itu mentah saat ujicoba memakai bibit alam yang sudah beradaptasi di kolam konvensional. Hasilnya tetap tidak memuaskan. ‘Mungkin campuran media yang kurang sesuai,’ pikir Ipenk. Sebab itu pula komposisi media awal itu diubah. Kini komposisi A dibuat perbandingan berbeda. Tidak 1:1, tapi 1:2. Demikian pula komposisi B. Jumlah pupuk kandang dikurangi dan kompos tetap, 1:2. Campuran itu masih ditambah bekatul dan lumpur kering masing-masing sebanyak 0,4 bagian. ‘Bekatul dipakai sebagai perekat. Pupuk kandang dikurangi karena proses penguraiannya terlalu lama,’ ujarnya. Media itu lantas diberi stater, konsentrat mikroorganisme sebanyak 0,6 bagian. Campuran itu lantas diperam 7-14 hari hingga terfermentasi sempurna. Campuran akhir terlihat seperti serbuk kopi, berwarna hitam pekat. Saat ditaruh di air, serbuk itu tidak mengeluarkan gas amonia. Saat diuji kembali pada kolam dan jumlah bibit sama, media instan baru itu menuai hasil menggembirakan. Tingkat mortalitas (kematian) turun hingga di bawah 10%. Bahkan khusus di kolam, bobot 200 g/ekor dapat dicapai dalam tempo 4,5 bulan. Peternak konvensional butuh waktu minimal 6 bulan. ‘Mortalitas pernah mencapai angka nol persen,’ ujarnya. Terobosan baru Menurut Dr Ir Ridwan Affandi, DEA, temuan Ipenk itu terobosan baru. ‘Selama ini budidaya konvensional dianggap terbaik,’ ujar peneliti ikan konsumsi dari Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor itu. Ridwan menduga, kecepatan pertumbuhan karena diiringi munculnya pakan alami. ‘Komposisi media itu bisa menumbuhkan cacing, insekta air, protozoa, infusoria, gastrophoda, fitoplankton, dan zooplankton,’ tambah alumnus Universite De Paris VI di Perancis itu. Meski demikian menurut Ardyant Taufik, peternak di Solo, sumber pakan alami yang dibentuk media instan tetap perlu disokong pakan alami lain. ‘Pertumbuhan belut akan makin baik jika diberi anakan ikan mas, ikan cetol, bekicot, dan keongmas,’ ujar alumnus Jurusan Hukum, Universitas Muhammadiyah Solo yang sudah menerapkan media instan pada plasmanya itu. Menurut Ipenk, keunggulan lain dari media instan terletak pada sirkulasi air. ‘Kolam tidak perlu diberi arus,’ ujarnya. Cara konvensional, arus air tetap diperlukan sebagai sumber oksigen terlarut. ‘Oksigen tetap diperoleh asalkan ketinggian air diatur sekitar 3 cm saja,’ tambahnya. Istimewanya lagi pemanfaatan eceng gondok Eichornia crassipes sebagai peneduh yang lazim diterapkan peternak konvensional tidak dibutuhkan lagi. Maklum media instan itu sudah dapat melindungi belut dari sengatan matahari. Upaya keras Chrisno Feryadi menciptakan media instan patut mendapat acungan jempol. ‘Penemuan itu sangat membantu peternak pemula yang selalu kesulitan mendapat bahan baku media,’ ujar Sonson Sundoro, pemilik PT Dapetan, eksportir belut di Bandung. Jadi, mau beternak belut? Siapkan ember, tabur media, siram air, dan cemplungkan belut. Praktis. Media instan menjadi solusi terbaik. (Hermansyah) Tips : Cara mengetahui apakah belut itu sudah panen atau belum mungkin dengan cara memasang bubu di kolam tersebut secara acak. nah dari belut yang masuk bubu tersebut kita lihat dan ukuran berapa yang terbanyak. Kalau dengan cara kita acak-acak medianya, mungkin si belut ( seluruh isi kolam ) bisa stress. Menangkap belut Untuk menangkap belut saya memasang bubu disawah. Saya umpan cacing dibakar sekitar 4-5 ekor untuk satu bubu. Bau cacing bakar bikin belut mabok kepayang masuk semua ke bubu tanpa kecuali. Caranya : bubu di masukan cacing bakar kemudian bubu ditanam separo dalam lumpur diantara tanaman padi setelah mahgrib. Beri jalur pada lumpur untuk jalan masuk. Lihat besok pagi setelah solat subuh, tapi hati hati didalam bisa ada ular, tandanya kalau didalam ular padi di sekitar bubu roboh karena ular setelah kepalanya masuk dan ekornya berontak merobohkan padi disekitar bubu. Pembibitan belut Dalam satu media, menggunakan Jantan : yg panjangnya 40 cm dan betina 25 -30 cm. Satu tempat pemijahan 1 jantan dan 4 betina. Ternak Belut dalam 1mx1mx1m Kolam 1m2 dg kedalaman 1m berarti volumenya kan 1m3, kalau mau diisi 70cm berarti 0,7m3 berarti sebanyak itu media yang kita perlukan. Jerami 5 karung kalau sdh ditimbun lumpur langsung mampat cuma bbrp cm tebalnya, alhasil suzuki pick up cuma bisa bawa media untuk kolam 1 x 1m2. Tanya Jawab Belut T : Media kolam yang bagus yg bgm ? J : Ardyant : Media (lumpur & air) adalah tempat hidup belut, mk media hrs bersifat “adem”(dingin dan lumpurnya lembut) dan banyak jasad renik didlmnya untuk makanan belut,air bersih tdk tercemar tdk ada kaporit. Medianya : 1. Jerami 2. Pupuk kandang, 3. Pembiak mikro organisme (pupuk kimia ZA,NPK atau paling bagus starter organik) 4. Lumpur sawah/sungai/rawa yg halus, 5. Kompos (Pupuk kandang) 6. Cacahan batang pisang (sbg tempat hidup cacing) 7. Lumpur lagi paling atas. 8. Kemudian diisi air bersih, tinggi media 60 cm - 70 cm. Tinggi air diatas media min 3cm maks 4cm. Kalau tinggi air >15cm belut akan tewas. Kalau media tdk disukai belut maka belut akan lari keluar atau lebih baik mati jadi tanah, dan anda tdk akan menjumpai bangkainya. T : Bgm sistim saluran air dikolam semen ? J : Bersambung nanti ya,sholat dulu. Sistim saluran air,Ardyant : 1. Saluran air masuk & 2. sal pembuangan 3. pembuangan primer didasar kolam unt buang air kolam waktu panen 4. pembuangan sekunder di bag atas kolam unt kontrol air agar tidak lebih dari 4cm diatas lumpur. T : Apakah bangkai bisa unt makanan tambahan ? J : Ardyant : Pakan tambahan harus diberikan 3hr setelah tebar bibit, belut makan dimalam hari, ttp pakan boleh diberikan tiap saat, tiap 2hr-3hr, bisa berupa cacahan bekicot, daging kelinci/ikan besar yg sdh direbus, kodok cacah, ikan2 kecil/pakan buatan berupa pellet udang/lele. T : kalau belut dipelihara 4-5 bl & tdk ada penjarangan bgm menjaga agar media tetap baik kondisinya ? J : Ardyant :Krn kotoran belut air akan bnyk mengandung amoniak jadi sebaiknya air diganti setiap seminggu, seblm seminggu kalau banyak buih juga hrs ganti, yg ideal kalau air disirkulasi tiap saat & disaring pakai filter spt di aquarium. T : Apakah setelah belut dipanen lumpurnya bisa dipakai lagi? J : Ardyant :Bisa,tetapi media yang lain perlu diperbarui agar jasad reniknya tetap banyak. T : Berapa % tingkat sukses plasma selama ini ? J : Ardyant :Untuk pemula bisa 100% gagal dulu, jadi mulailah dengan kecil dulu,10m2 sampai 20m2. T : Bagaimana dengan pembesaran di drum ? J : Ardyant : Drum tdk disarankan unt pembesaran, krn hasilnya tdk akan optimal, kalau mau nyoba beri bibit 1 kg saja, drum yg karatan tdk bisa dipakai. Drum plastik tdk cocok dipakai krn tdk rigid. Drum cocoknya unt kolam pembibitan. T : Apa kunci sukses pembibitan di drum ? J : Ardyant : Tempat pembibitan bisa pakai drum plastik/besi/buis beton yg diameter 50cm tinggi cukup 50cm. Media yg dipakai sama dg yg unt pembesaran, cuma tingginya 15cm-20cm saja unt memudahkan pengontrolan. Isinya cukup seekor jantan & 4 ekor betina (blm dicoba kalau >4ekor). Dialam perkawinan belut terjadi saat musim panas sampai datang hujan, jadi iklim dikolam dibuat spt itu spy belut cepat kawin, agar kolam teduh bisa diberi shading net yg 30 %. T : Begitu kolam selesai dibuat nunggu brp lama spy baik dipakai ? J : Ardyant : Kolam baru hrs digosok dulu dg pelepah pisang sampai berbusa, tunggu kering 1 atau 2 jam bilas dg air, kalau memang tdk bocor, langsung bisa diisi media. kmdian isi dg air, tinggi air diatas lumpur maks 4cm. tunggu sampai 2 minggu, cek dg di obok2 pakai kayu, kalau tdk ada lagi gas yang timbul berarti media sdh jadi, bibit bisa dimasukkan ke kolam. T : Ada kasus nih, kalo ada kolam 1,5m x 1,5 m tapi tingginya 1,5 m, apakah banyaknya bibit yg disebar sama dengan yg tinggi 1 m? Mana yang lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan belut: Lebar dan panjang kolam ato kedalaman kolam? J : Lebarnya lah yang berpengaruh, jadi patokan buat penebaran cuma luas media aja om… kl ketinggian tidak termasuk dan buat budidaya ini cuma butuh tinggi kolam 80-100cm aja.. karena media yang di pake berkisar di angka 60-70cm aja dan ketinggian air dr atas lumpur maximal 4 cm dan minimal 3 cm… dan untuk 1 m2 idelanya buat 1 kg bibit belut. Perhitungan Kasar : Contoh perhitungan ternak Belut sbb : o Luas lahan saya 10 x 10 m = 100 m2 o 1 m2 bisa ditanam 1 kg. jadi butuh 100 kg bibit belut. o 1 kg bibit bisa panen 15 kg. Jadi kalo kita menyebar 100 kg maka potensi panennya bisa 1500 kg. o Harga 1 kg belut panen = 20.000 rupiah. jadi total uang masuk = 30 juta rupiah!!. BIAYA :  Bibit 1 kg = 22.000. jadi untuk 100 kg bibit = 2,2 juta.  pakan ? anggap 2,8 juta.  Total 5 juta.  Margin 30 juta - 5 juta = 25 juta!! Apakah betul asumsi perhitungan diatas?? jika betul cukup mencengangkan lahan 100 m2 bisa menghasilkan 25 juta dalam tempo 4 bulan. Membangun Jaringan Belut Saat ini ada keinginan membangun Koperasi Belut Indonesia yang bertujuan mendekatkan petani belut dengan konsumen (pasar) secara langsung. Selama ini jalur distribusi dikuasai oleh pedagang/tengkulak, sehingga harganya tidak terkontrol. Pengiriman Belut Gimana sistem pengiriman hasil panen belut ?  Pengiriman hasil panen bisa dengan steofoam yang di lubangi bagian atasnya aja,  trus di kasih air sedikit,  1 box steofoam ukuran 75×45 bisa muat belut 25-30kg  pengiriman mengunakan apa aja deh, bisa dengan perjalanan darat, bisa juga dengan udara…asal paking bener pasti slamet belut besar tahan luar biasa kok….  yang jelas proses sebelum di kirim, belut di cuci bersih dan  belut sudah di diemkan di dalam bak yang berisi air aja kurang lebih tingginya 5-7cm aja dan  air dibikin mengalir bisa dengan menggunakan jetpum yang biasa di pake di aquarium…  kl sudah belut di cuci bersih kemudian di masukan ke dalam box steofoam sebelumnya di timbang dl..  kl sudah masuk semua box di isi air bersih… dan  buih yang terdapat di dalam box di buang dengan cara di ambil pake tangan/mangkuk…  kemudian di beri 1 lembar daun pepaya dengan tujuan menggantikan lendir yang terbuang selama perjalanan nanti.  air di dalam Box pengiriman kurang lebih 3cm dr atas belut paling atas  kl sudah di lakban sekeliling… yang rapat.. dan  jangan lupaa tutup atas steofoam di kasih lubang sebesar jemari telunjuk sebanyak 20 lubang…  so belut siap di kirim ke saya deh. (dari berbagai sumber) Sabtu, 2009 Mei 16 Budidaya Belut BUDIDAYA BELUT Belut merupakan jenis ikan (konsumsi) air tawar dengan ciri-ciri bentuk tubuh bulat memanjang memiliki sirip punggung serta tubuh licin. Habitat hidupnya di sawah, rawa dan kali/sungai2 kecil, makanan kesukaannya adalah anak ikan/ ikan yang masih kecil. Produksi belut biasanya berasal dari tangkapan di alam, namun saat ini belut telah mulai banyak dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor. Klasifikasi belut adalah sebagai berikut, Kelas : Pisces Subkelas : Teleostei Ordo : Synbranchoidae Famili : Synbranchidae Genus : Synbranchus Species : Synbranchus bengalensis Mc clell (belut rawa); Monopterus albus Zuieuw (belut sawah); Macrotema caligans Cant (belut kali/laut) Manfaat dari budidaya belut adalah : 1) Sebagai penyediaan sumber protein hewani bagi masyarakat 2) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari 3) Sebagai obat penambah darah 4) Sebagai sumber penghasilan tambahan Lokasi tempat hidup belut : 1) Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik, sebab belut dapat hidup di dataran rendah sampai dataran tinggi. 2) Air untuk pemeliharaan belut sebaiknya bersih/tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun khususnya untuk bibit yang masih kecil, sedangkan belut dewasa dapat hidup di air yang keruh. 3) Suhu/temperatur optimal untuk pertumbuhan belut berkisar antara 26-32°C. Persiapan Sarana dan Peralatan 1) Jenis kolam budidaya belut dapat dibedakan antara lain yaitu : kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan, kolam pembesaran dan kolam karantina/pasca panen. Masing2 jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri. 2) Kolam induk kapasitas daya tampungnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja (ukuran 2-5cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut dewasa (ukuran > 8 cm) daya tampungnya 50 - 100 ekor/m2. 3) Type kolam : Kolam tembok/semen, kolam plastik/terpal, kolam jaring/karamba, kolam drum/blung dan kolam sawah. 4) Sarana maupun peralatan yang diperlukan berupa media, kolam, sumber air, alat penangkapan, ember plastik dan peralatan-peralatan lainnya. 5) Media kolam terdiri dari : lumpur, pupuk kandang/kompos, jerami/sekam padi dan cincangan batang pisang. Ketinggian media ±30cm, ketinggian air permukaan ±3cm. Tahapan Budidaya Belut : A) Pemijahan Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran ±30 cm dan belut jantan berukuran ±40 cm. Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor jantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari hingga telur-telur belut menetas, setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk ditempatkan di kolam pendederan calon benih/bibit selama 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam pembesaran. B) Menyiapkan Bibit Bibit belut yang sudah siap dipelihara adalah yang berukuran 5-8 cm (ukuran sedotan), bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam. Lama waktu pemeliharaan selama 4-6 bulan (dapat dilakukan dalam 1 tahapan pemeliharaan sekaligus sampai dengan panen atau dalam 2 kali tahapan pemeliharaan masing-masing lamanya 2-3 bulan). C) Pemeliharaan / Pembesaran Media pemeliharaan disusun dari beberapa bahan seperti lumpur, pupuk kandang / kompos, jerami padi, dan cincangan batang pisang. Bahan-bahan tersebut disusun kemudian direndam dalam air dengan ditambahkan starter microorganisme (EM4) dan difermentasi selama ±1 bulan, setelah media benar-benar siap dapat ditebari dengan bibit belut (bibit bisa berasal dari hasil pemijahan atau diperoleh dari tangkapan di alam). Selama masa pemeliharaan air diusahakan selalu bersirkulasi (ada yang masuk dan ada yang keluar). Pakan yang diberikan sebaiknya masih segar dan hidup, seperti ikan cetol, ikan impun, cacing tanah, belatung, keong dan bekicot. Pakan diberikan minimal sehari sekali diatas pukul 17.00 WIB. Masa pemeliharaan belut hingga panen (ukuran konsumsi dengan berat antara 0,2–0,4 kg/ek) berkisar antara 4 – 6 bulan. Pada pemeliharaan belut secara komersial dan dalam jumlah yang besar, penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini agar belut dapat diterima oleh konsumen dalam kualitas yang baik, sehingga mempunyai jaringan pemasaran yang luas. Budidaya belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik sebab permintaan konsumen/pasar terhadap belut terus semakin meningkat. Diharapkan dengan ketelatenan dan teknik pemeliharaan yang tepat akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen. Selamat mencoba!! (Widodo : http://www.iwakfish.co.cc dirangkum dari berbagai sumber) Diposkan oleh PERIKANAN budidaya di 06:24 0 komentar Jumat, 2009 Mei 08 USAHA BUDIDAYA BANDENG UMPAN Disusun oleh : Widodo. I. PENDAHULUAN Ikan bandeng (Chanos chanos) dimanfaatkan tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi manusia melainkan juga dapat dimanfaatkan sebagai umpan pada penangkapan ikan tuna dan cakalang baik dalam keadaan segar, beku maupun hidup. Produksi bandeng konsumsi dan bandeng umpan sebagian besar masih berasal dari budidaya di tambak. Dari waktu kewaktu permintaan akan bandeng umpan terus meningkat hanya saja petani terbentur pada masalah teknologi pemasaran serta teknologi budidaya, namun bila diupayakan dengan manajemen budidaya yang tepat tentu akan dapat lebih meningkatkan keuntungan / pendapatan bagi petani tambak. Pemilihan bandeng sebagai komoditas budidaya adalah sangat tepat karena saat ini telah banyak diusahakan oleh petani tambak walaupun sebagian besar masih untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat (lokal). Selain itu bandeng termasuk ikan yang relatif mudah untuk dibudidayakan karena tidak banyak kendala penyakit. Sampai saat ini juga tidak terdapat kendala dalam penyediaan benih (nener) karena beberapa tahun terakhir ini sudah banyak panti-panti pembenihan skala rumah tangga (backyard hatchery) yang siap memproduksi nener. Indonesia memiliki potensi tambak seluas 326.000 ha, namun teknologi yang diterapkan sebagian besar adalah dengan sistem ekstensif (80,3%), sedangkan semi intensif (11,3%) dan intensif (8,4%). Budidaya tambak sebagai salah satu bentuk pemanfaatan lahan marginal dikawasan pesisir telah memperlihatkan peranannya dalam memberikan kontribusi terhadap perolehan devisa, penyerapan tenaga kerja dan peningkatan penghasilan petani tambak. Mengingat perkembangan dan peluang usaha budidaya tambak yang sangat potensial tersebut tentu diperlukan upaya pengembangan budidaya tambak yang konseptual dan berwawasan lingkungan sehingga dicapai keserasian antara kepentingan peningkatan produksi dengan upaya pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan. II. PENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA BANDENG DI TAMBAK Pada saat ini masih terdapat berbagai kendala terhadap pengelolaan ketersediaan sumberdaya tambak yang belum termanfaatkan secara optimal. Mempertimbangkan situasi tersebut perlu dilakukan peninjauan pada strategi pengembangan budidaya tambak sehingga tidak lagi bertumpu pada satu jenis komoditas tetapi juga dengan melakukan diversifikasi komoditas serta diversifikasi pemanfaatannya, hal ini diharapkan mampu mengatasi masalah penurunan produksi tambak. Dalam pengembangan usaha budidaya bandeng di tambak ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan yaitu : Kesesuaian lahan, ketersediaan komoditas dan teknologi serta permintaan pasar. Kesesuaian lahan perlu diperhatikan mengingat bervariasinya daya dukung dan tingkat kesesuaian lahan pada setiap hamparan tidak sama. Selain itu ketersediaan komoditas untuk mencapai optimalisasi produksi masih dihadapkan pada masalah pemasaran hasil dan keterbatasan jumlah produksi. Teknologi budidaya tambak pada dasarnya adalah merupakan teknologi terapan, kendati demikian keberhasilan penerapan teknologi dilapangan ditentukan oleh tingkat penguasaan terhadap faktor-faktor produksi yaitu meliputi wadah tempat budidaya/tambak, media budidaya/air, organisme budidaya, ketersediaan pakan, benih dan teknologi pengolahan lahannya. Sedangkan permintaan pasar merupakan salah satu faktor pembatas bagi peningkatan dan kelangsungan produksi suatu jenis komoditas. Karena itu komoditas yang harus dikembangkan adalah yang laku dipasaran lokal maupun eksport. Sehingga kemudahan dalam proses pemasaran termasuk faktor yang perlu diperhatikan serta perlunya penguasaan terhadap informasi pangsa pasar yang jelas dan lengkap. Dengan semakin dikuasainya teknologi reproduksi dan perbenihan ikan bandeng maka semakin terbuka pula peluang usaha budidaya bandeng. Sehingga dimungkinkan akan semakin meningkat pula permintaan bandeng untuk keperluan umpan tuna long line. Mengingat potensi lahan budidaya tambak yang ada maka peluang usaha bandeng umpan masih sangat terbuka. III. SISTEM DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA BANDENG UMPAN Sistem budidaya bandeng mencakup subsistem reproduksi, perbenihan, penggelondongan dan pembesaran yang diharapkan dapat berkembang menjadi satu sistem yang produktif dan berkesinambungan, yang dikelola dengan menerapkan beberapa sistem yaitu : - Subsistem reproduksi induk bandeng sampai tingkat telur, ditangani oleh hatchery skala besar. - Subsistem perbenihan yaitu penetasan telur sampai dengan nener, ditangani oleh hatchery skala kecil (backyard hatchery). - Subsistem penggelondongan yaitu pemeliharan nener sampai mencapai glondongan muda (prae fingerling), dilaksanakan oleh petambak. - Subsistem pembesaran yaitu pemeliharaan glondongan muda sampai dengan glondongan / bandeng umpan (post fingerling) atau bandeng konsumsi, dilaksanakan oleh petambak. Teknik budidaya bandeng diarahkan untuk meningkatkan produksi dan keuntungan dengan cara menghasilkan bandeng berkualitas dan pemanfaatkan tambak yang telah ada atau dengan memanfaatkan bekas tambak udang intensive yang telah ditelantarkan. Yang perlu diperhatikan pada budidaya bandeng meliputi penentuan metode budidaya, pemilihan lokasi, rancang bangun, tata letak, konstruksi, serta seleksi benih sampai dengan glondongan, pembesaran, panen, pasca panen dan pemasaran. Selain itu juga harus tetap memperhatikan sistem pengelolaan mutu/kualitas air dan pakan, serta pencegahan/penanggulangan hama dan penyakit. Teknologi budidaya bandeng dapat dibagi menjadi 4 yaitu ekstensif (tradisional) dengan kepadatan : 2000-3000 ekor/ha, tradisional plus (kepadatan 4000-6000 ekor/ha), semi intensif (kepadatan 8000-12000 ekor/ha) dan intensif kepadatan >20.000 ekor/ha. Kedalaman air minimal pada masing-masing teknologi secara berurutan adalah 50 cm, 80 cm, 100 cm dan 120 cm. pada budidaya ekstensif seluruh suplai makanan mengandalkan pakan alami, pada tradisional plus dengan pakan alami dan pelet, sedangkan semi intensif dan intensif sebagian besar menggunakan pakan buatan. Metode budidaya dapat dilakukan dengan cara monokultur atau polykultur dengan sistem tunggal maupun modular. Dengan kondisi usaha perbenihan bandeng saat ini yang cukup maju diharapkan akan dapat memenuhi pasokan benih bagi pembudidaya secara “kontinyu” sepanjang tahun sehingga teknologi budidaya bandeng yang semula tradisional dapat diarahkan ke sistem semi intensif dan bahkan intensif. Sebelum melakukan usaha sebaiknya lebih dahulu melakukan pemilihan lokasi yaitu selain demi terjaganya keamanan juga berpengaruh pada efisiensi biaya produksi. Lokasi yang dipilih adalah daerah yang bebas dari banjir, dekat dengan pasok benih, dan adanya akses jalan agar mudah dijangkau. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan usaha budidaya : 1. Air (Kualitas Air dan Ketinggian Air dalam Petakan) - Kualitas Air Pengelolaan kualitas air yang berhasil di suatu lokasi belum tentu memberikan hasil yang sama bila diterapkan ditempat lain. Karena itu kecermatan, kejelian dan kemampuan pengelola dalam membaca fenomena alam sangatlah penting dalam menentukan keberhasilan pengelolaan mutu air. - Ketinggian air dalam petakan Pada budidaya bandeng secara tradisional tinggi air biasanya kurang dari 50 cm agar kelekap dapat tumbuh optimal. Sedang dalam budidaya bandeng intensif kedalaman air sebaiknya lebih dari 1 m - 1,2 m karena kelekap tidak lagi menjadi sumber pakan utama, selain itu juga akan menghasilkan ruang hidup yang lebih luas dan kandungan oksigen terlarut lebih banyak. 2. Iklim Meski bandeng sangat toleran terhadap perubahan salinitas tetapi pertumbuhan optimal terjadi pada rentang 15 – 25 ppt. Pada salinitas tinggi 30 – 50 ppt pertumbuhan bandeng lebih lambat dan sangat peka terhadap stres yang diakibatkan oleh rendahnya oksigen terlarut. Karena itu faktor iklim terutama curah hujan perlu diperhitungkan dalam kaitannya dengan osilasi pasang dan perubahan salinitas. 3. Tanah Tanah dasar tambak dan pematang yang dipilih adalah yang dapat menahan air atau tidak porous. Jenis tanah liat berpasir atau lempung liat berpasir biasanya memiliki plastisitas cukup tinggi dan tidak porous. Tanah yang harus dihindari adalah jenis tanah berpasir diatas 70% karena porous dan tanah gambut karena memliki pH rendah. 4. Pakan Ikan bandeng bersifat herbivora tetapi responsif terhadap pakan buatan/pelet. Pakan bandeng dapat berasal dari pakan alami atau kelekap serta pakan buatan/pelet. Pakan alami berupa klekap (”tai air”) sangat penting pada tahap awal pemeliharaan. Organisme penyusun klekap sebagian besar masuk dalam kelompok Cyanophyceae, Bacillariophyceae, Chlorophyceae dan Rhodophyceae. Sedangkan Pakan buatan yang diberikan biasanya berupa pelet apung yang berkualitas baik, umumnya kandungan protein pakan berkisar 30 – 35%. Yang harus diperhatikan pada saat pemberian pakan harus tepat waktu, mutu dan jumlah serta frekuensi pemberian pakan. - Pengelolaan Pakan yang efisien : Budidaya bandeng intensif tidak terlepas dari ketersediaan pakan buatan yang mencukupi dalam jumlah maupun mutunya. Pakan alami yang ditumbuhkan hanya bersifat suplemen yang merupakan sumber vitamin dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan juga akan mempengaruhi tingkat keuntungan. Pertumbuhan ikan bandeng sangat dipengaruhi oleh komposisi nutrisi pakan yang dimakannya. Dalam penghitungan efisiensi penggunaan pakan yang harus diperhatikan yaitu Rasio Konversi Pakan (RKP) atau Feed Covertion Ratio (FCR) dan Rasio Efisiensi Protein (REP). RKP dan REP biasanya dihitung secara sederhana sebagai berikut : RKP = Jumlah Pakan yang diberikan : Jumlah penambahan bobot ikan REP = Penambahan bobot ikan : Total protein yang diberikan RKP maupun REP sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan, sifat genetik dan kondisi lingkungan tempat ikan hidup. 5. Benih Benih nener dapat diperoleh dari backyard, hatchery, pengumpul maupun dari petani pendeder nener/glondongan. Benih yang digunakan adalah nener maupun glondongan yang berkulitas baik yaitu sehat, tidak stres, ukuran seragam dan dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Ciri - ciri : a)Badannya ramping, bersih dan mengkilat, b)Warna bening atau kelam, c)Gerakan cepat d)Bebas penyakit, e)Ukuran seragam dan f)Ekor telah mulai mengembang sebagai kipas. 6. Persiapan tambak Meliputi perbaikan pematang, perbaikan saluran dan pintu air, pengolahan tanah, pemupukan (pupuk yang digunakan adalah Urea : 150-200 kg/ha dan TSP : 75-100 kg/ha) yang ditebar secara merata serta penggunaan pupuk organik (probiotik), penggendalian/pembasmian hama (dengan Saponin). Selanjutnya diisi air + 5-10 cm dan biarkan beberapa hari. Setelah pakan alami tumbuh, air ditambah secara bertahap sampai ketinggian 40-50 cm. 7. Pembesaran Pembesaran dapat dilakukan dalam petak – petak pembesaran maupun jaring apung. Pada budidaya bandeng adanya pertumbuhan klekap sangat diperlukan, karena itu pada petak pembesaran ketinggian air dipersiapkan seperti pada petak pendedaran yaitu ±40 cm agar klekap dapat tumbuh. Setelah klekap tumbuh baik, nener dari petak pendederan dapat ditebarkan. Ketinggian air dapat ditambah secara bertahap pada setiap pasang naik hingga mencapai 1 m. Kepadatan bandeng disesuaikan dengan metoda budidaya yang dikehendaki. Pada sistem sederhana/ tradisional kepadatan bandeng biasanya 1 ekor /2 m2, pada sistem semi intensif kepadatan rata-rata 2 ekor/m2 sedangkan pada sistem intensif kepadatan dapat mencapai lebih dari 5 ekor/m2. Pertumbuhan ikan diamati dengan melakukan sampling setiap dua minggu sekali. Ukuran bandeng pada saat panen tentu bervariasi tergantung permintaan pasar. Ukuran bandeng 8 – 12 ekor/kg baik untuk bandeng umpan, ukuran 3 – 4 ekor/kg baik untuk konsumsi langsung, sedangkan ukuran kurang dari 2 ekor/kg disebut kualitas prima / bandeng super. 8. Penanganan Panen - Penanganan panen bandeng umpan hidup Pada penanganan bandeng untuk umpan hidup transportasi sangat mempengaruhi mutu dan sintasan bandeng. Pada saat panen bandeng seringkali terjadi luka pada mulut dan sisik terkelupas karena tidak tepat dalam penggunaan alat tangkap/jaring. Saat panen biasanya digunakan jaring arad yang halus dan dikombinasikan dengan pemanfaatan sifat Rheotaksis (bandeng suka berenang melawan arah arus air) untuk mengurangi intensitas luka atau sisik terkelupas, serta dengan melakukan pembiusan pada saat pengangkutan. Biasanya dibius dengan menggunakan MS-222 (trimethylsulfocaine) 40-50 ppm dan ethilen glikol, atau bisa juga digunakan ekstrak biji karet dan minyak cengkeh. Transportasi dilakukan pada suhu air 18 - 20C dengan menggunakan es balok yang dibungkus dalam kantong plastik. Sebaiknya sebelum panen ikan bandeng dipuasakan terlebih dahulu dengan sedikit dibuat stres agar berkurang nafsu makannya. Panen bandeng umpan dilakukan setelah mencapai panjang baku (FL) 12 - 14 cm. - Penanganan panen bandeng mati untuk umpan Mutu yang dikehendaki konsumen yaitu dalam hal sisik terkelupas dan mulut luka tidak berbeda dari umpan hidup. Karena itu pada saat panen harus dilakukan dengan secermat mungkin agar tidak menyebabkan luka. Untuk mempermudah panen petambak biasanya menggunakan saponin pada dosis seperti untuk pemberantasan hama, ikan yang mati kemudian segera dipanen dan langsung didinginkan. Namun cara tersebut memiliki kelemahan karena ukuran ikan yang bervariasi menyebabkan ukuran ikan yang tidak memenuhi syarat menjadi terbuang. Selanjutnya ikan yang dipanen harus segera didinginkan menggunakan es kemudian diangkut ke coldstorage untuk dibekukan dan dikemas. Pengemasan untuk transportasi lanjut sampai ke kapal tuna dilakukan oleh pengelola coldstorage. Ikan yang ditangkap untuk umpan mati sebaiknya tidak dikonsumsi langsung karena rasanya kurang enak akibat saponin juga mungkin tidak sehat untuk manusia. IV. PELUANG PEMASARAN USAHA BANDENG UMPAN Perikanan khususnya usaha perikanan budidaya merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam perekonomian sehingga diharapkan pemanfaatan potensi bidang perikanan akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, perbaikan gizi masyarakat, dan penyediaan lapangan kerja. Untuk mencapai keberhasilan tersebut perlu adanya penguasaan dan kemampuan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat dibidang perikanan khususnya pengembangan teknologi budidaya perikanan. Salah satunya adalah peluang pemanfaatan teknologi budidaya ikan bandeng untuk umpan tuna long line baik dengan kondisi hidup maupun mati karena ikan bandeng secara fisik memenuhi persyaratan sebagai umpan tuna long line dibanding ikan jenis lainnya. Sampai saat ini peluang pasar terhadap permintan bandeng umpan akan terus bertambah sejalan dengan meningkatnya usaha penangkapan ikan tuna dan sejenisnya. Sebagai gambaran berdasarkan data tahun 1995, armada kapal tuna yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Muara Baru Jakarta berjumlah 357 buah. Dari jumlah tersebut 201 buah menangkap dengan menggunakan umpan hidup dan 156 buah menggunakan umpan segar dan beku dari berbagai jenis ikan. Pada periode 1995 – 1998, pasokan bandeng hidup ke PPS Muara Baru Jakarta berkisar antara 32 - 47 juta ekor atau 2,4 – 5,1 juta ekor/bulan. Melihat usaha penangkapan ikan tuna yang masih potensial untuk berkembang pesat tentu berpengaruh besar pula pada peluang pasar usaha budidaya bandeng umpan. V. PERMASALAHAN DAN UPAYA PEMECAHANNYA A. Permasalahan 1. Penguasaan teknologi pembudidayaan dan pengolahan lahan yang masih sederhana dan turun menurun. 2. Untuk umpan bandeng hidup permasalahannya adalah upaya untuk menurunkan tingkat kematian (mortalitas) mulai dari tingkat petani pada waktu pengiriman dari lokasi tambak - kepelabuhan dan selama didalam kapal ( 30 hari). 3. Teknologi penanganan pasca panen bandeng umpan belum dikuasai oleh petambak secara baik sehingga dalam proses pemanenan menyebabkan turunnya mutu bandeng umpan hidup/mati yang cepat rusak/busuk. 4. Pada budidaya bandeng secara intensif dibutuhkan biaya investasi yang sangat tinggi. Sehingga menghambat perkembangan pembudidaya dengan tingkat ekonomi menengah kebawah karena kurangnya modal. 5. Belum adanya lembaga atau kelompok yang secara khusus menangani produksi dan pemasaran bandeng umpan berakibat sulitnya dicapai kontinyuitas produksi. 6. Informasi pasar untuk bandeng umpan masih sangat terbatas. 7. Dalam penjualan bandeng umpan harga lebih banyak ditentukan oleh pihak pembeli (tengkulak) sehingga kurang mendorong usaha budidaya bandeng umpan. B. Upaya Pemecahan 1. Diperlukan penguasaan teknologi terapan yang lebih maju dan tepat sasaran bagi petani tambak untuk mendukung produktivitas bandeng umpan.Untuk mengatasi tingkat mortalitas yang tinggi maka perlu adanya bimbingan dan pelatihan agar dapat dikuasai sistem teknologi pengangkutan yang tepat. Misalnya dengan melakukan pembiusan pada ikan, kontrol kualitas air pada saat pengangkutan, juga dapat menggunakan obat yang khusus untuk pengangkutan (transfish) yang berguna untuk mengurangi kadar amoniak dalam air. 2. Upaya penyuluhan dan pendampingan teknologi oleh pihak/dinas/instansi terkait (Departemen Kelautan dan Perikanan beserta jajarannya) dan penyampaian informasi teknologi pasca panen dengan metoda yang efektif, misalnya melalui uji coba dan secara langsung. 4. Dalam mengatasi masalah permodalan diperlukan adanya suatu lembaga keuangan yang khusus menangani bidang perikanan untuk membantu permodalan dengan bunga serendah mungkin. 5.Perlu dibentuk suatu lembaga maupun kelompok – kelompok yang bergerak dibidang usaha bandeng umpan yang dapat memberikan informasi maupun bimbingan teknis budidaya dan pemasaran bandeng umpan. 6. Perlunya kerjasama antara petani melalui kelompok tani, dan perjanjian kerja samapai/ mitra dengan pihak-pihak terkait maupun para pengusaha agar peluang pasar semakin terbuka. 7. Dalam penentuan harga jual bandeng pihak petani / kelompok tani mempunyai peran besar untuk dapat ikut mengendalikan harga (tentunya sesuai dengan mutu / kualitas produksi). VI. PENUTUP Untuk lebih mendukung kegiatan usaha budidaya bandeng umpan tentunya masih dibutuhkan kelengkapan data dan penguasaan dalam menghadapi permasalahan yang ada dalam usaha tersebut. Sehingga perlu dilakukannya pemetaan zona pengembangan benih, pembesaran hingga pemasaran. Serta perlunya mendorong petambak untuk membentuk dan meningkatkan kembali paguyuban atau kelompok pembudidaya agar lebih berdaya guna dan terorganisir serta peningkatan kerjasama (mitra usaha) yang saling menguntungkan sehingga timbul kemudahan dalam tata niaga benih maupun produksi bandeng umpan. Usaha bandeng umpan adalah suatu alternatif usaha yang diharapkan dapat memperbaiki dan lebih meningkatkan perekonomian masyarakat pembudidaya ikan, serta terciptanya kesempatan kerja dan berusaha dengan sistem budidaya yang ramah lingkungan, melalui pemanfaatan sumber daya alam yang lestari dan berkeadilan dalam rangka mengurangi kesenjangan antar kawasan dan antar golongan masyarakat serta meningkatkan investasi dan ekspor produk bidang perikanan untuk meningkatkan penerimaan devisa bagi negara. DAFTAR PUSTAKA : 1. Dinas Perikanan Propinsi Jawa Tengah, Program Pengembangan Bandeng Umpan di Jawa Tengah, 1997. 2. Bambang S, Jenis-jenis Ikan Umpan dan Persyaratan yang Dibutuhkan Untuk Rawai Tuna Tuna Long Line). 3. Soedono SW dan Wahidin H, Peluang Pemasaran Umpan Bandeng Hidup dalam Pertemuan Aplikasi Paket Teknologi Pertanian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ungaran Pati – JawaTengah, 1997. 4. Taufik Ahmad, dkk, Budidaya Bandeng Secara Intensif, 2002. 5. Bandeng Umpan Hidup Usaha Tambak Prospektif, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten, Badan Litbang Pertanian Departemen Pertanian, 2004. ( Usaha Budidaya Bandeng Umpan, http://www.iwakfish.co.cc ) Diposkan oleh PERIKANAN budidaya di 12:39 0 komentar Jumat, 2009 Mei 01 Teknologi Pembenihan Lele TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN LELE (Clarias sp) Ikan lele (Clarias sp) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar unggulan dalam usaha budidaya ikan, selain mudah untuk dibudidayakan juga banyak diminati konsumen sebagai sumber pangan yang mengandung protein cukup tinggi. Mengingat tingginya permintaan terhadap komoditas ini maka salah satu jalan pemenuhannya adalah melalui pengembangan usaha budidaya lele khususnya usaha pembenihan, dengan semakin maraknya usaha pembesaran ikan lele tentu dibutuhkan pula benih dalam jumlah cukup besar. Untuk mendukung kebutuhan benih tersebut maka diperlukan usaha pembenihan ikan lele, usaha tersebut dapat pula dilakukan sendiri oleh masyarakat yang dikenal sebagai UPR (Usaha Pembenihan Rakyat). Dalam menjalankan usahanya UPR diharapkan tidak hanya memacu besarnya jumlah produksinya saja tetapi harus lebih mengutamakan mutu benih yang berkualitas. BIOLOGI IKAN LELE Lele mempunyai tubuh agak pipih memanjang, tidak bersisik namun berlendir/licin, berkepala pipih dengan lempeng tulang batok kepala yang keras, sirip dada dilengkapi dengan patil, mempunyai empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat berguna untuk bergerak di air yang gelap serta sebagai alat penciuman atau peraba pada saat bergerak dan mencari makan, mempunyai alat pernapasan tambahan (arborescent organ) yang tumbuh pada insang kedua dan keempat untuk mengambil oksigen langsung dari udara bebas. Klasifikasi ikan lele dalam SNI induk ikan lele dumbo adalah sebagai berikut : Filum : Chordata Kelas : Pisces Subkelas : Teleostei Ordo : Ostariophysi Subordo : Siluroidae Famili : Clariidae Genus : Clarias Spesies : Clarias gareipinus Habitat lele adalah disungai dengan arus air perlahan, rawa, telaga, waduk, dan air tergenang. Lele dapat hidup di dataran tinggi (± 700 m dpl) maupun dataran rendah dan relatif tahan terhadap pencemaran bahan organik. Lele merupakan hewan nokturnal yang aktif bergerak dan mencari makan pada malam hari, sehingga lele lebih menyukai tempat yang teduh atau gelap. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan. Syarat atau parameter kualitas air yang optimal untuk budidaya ikan lele : - Suhu : 24 - 30 °C - Oksigen : Maks 5 mg/l - Karbon dioksida : Maks 12 mg/l - Amoniak : Maks 1 mg/l dan Min 0,1 mg/l - Nitrit : Maks 0,1 mg/l PENYIAPAN SARANA PRASARANA 1. Kolam Induk 2. Kolam Pemijahan 3. Kolam Pendederan 4. Ruangan/gudang penyimpan pakan dan peralatan PEMELIHARAAN INDUK Pemeliharaan induk dilakukan di kolam Induk yang digunakan sebagai tempat กmenampung induk maupun calon induk. Pada kolam induk sebaiknya dipisahkan antara induk yang sudah pernah/baru dipijahkan dengan induk yang belum pernah/baru dipijahkan. Induk jantan dan betina juga dipelihara secara terpisah dengan padat penebaran 3-5 ekor/m2. Induk yang telah matang gonad siap untuk dipijahkan, untuk mempercepat proses kematangan gonad, selama pemeliharaan induk lele diberi pakan buatan berupa pellet dengan kadar protein 35-38% dan lemak 7-8%. Pakan buatan diberikan dua kali sehari (pagi dan sore) sebanyak 2% dari bobot induk yang dipelihara, dapat juga diberikan pakan alternatif berupa cacing, ikan rucah, keong, bekecot. PEMILIHAN INDUK LELE YANG BAIK Jantan Betina - Bentuk tubuh kekar, mulut membulat, berwarna cerah dan tidak cacat, kepala lebih kecil dari betina - Umur minimal 18 bulan dengan berat rata-rata 500 – 1000 gr/ekor, - Bukan dari satu keturunan dengan betina - Respon terhadap pakan, tahan penyakit, gerakan lincah dan cepat tumbuh - Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina - Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang, terletak di belakang anus, dan warna kemerahan - Perut lebih ramping/langsing dan kenyal, bila dipijat mengeluarkan cairan putih kental (sperma) yang artinya sudah matang gonad dan siap memijah - Bentuk tubuh kekar, dengan kepala lebih besar, mulut membulat, perut lebar - Umur minimal 18 bulan dengan berat rata-rata 250 – 1000 gr/ekor, - Respon terhadap pakan, tahan penyakit, gerakan lamban dan cepat tumbuh - Warna kulit dada agak terang - Bila bagian perut di striping secara manual dari bagian perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur) - Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus - Perut membesar ke arah anus, bila diraba terasa empuk, warna genetalia merah cerah (Anonymous, 2009c) TEKNIK PEMIJAHAN Kolam untuk pemijahan dapat berupa kolam tembok, kolam tanah, kolam terpal maupun dengan bak fiberglass. Kolam pemijahan sebaiknya dilengkapi dengan pipa air masuk dan pembuangan (saluran masuk dan pengeluaran), kolam berukuran kecil yaitu 2 x 1 x 0,5 m, dibuatkan kakaban atau sarang untuk bertelur yang terbuat dari ijuk / waring sebagai tempat menempel telur. Kolam ukuran kecil ini untuk kapasitas satu pasang induk memijah. Sedangkan untuk pemijahan massal, kolam dapat dibuat lebih besar dengan beberapa sarang di dalamnya. A. Teknik Pemijahan secara Tradisional 1. Sistem berpasangan Induk jantan dan betina dipilih yang telah matang gonad sebanyak 1 pasang dilepaskan ke kolam sekitar pukul 10.00 pagi. Untuk mengetahui induk telah memijah atau belum, perlu dilakukan pengontrolan setiap hari. Induk memijah dalam sarang yang tersedia dan telur akan menempel pada ijuk atau kakaban. Telur akan menetas setelah 36 – 48 jam. 2. Sistem Massal Induk jantan dan betina dipilih yang telah matang gona, Induk yang akan dipijahkan sebanyak 3 - 5 ekor/m2 dengan perbandingan jantan dan betina 1:2. Induk memijah dalam sarang yang tersedia dan telur akan menempel pada ijuk atau kakaban. Telur akan menetas setelah 36 – 48 jam. B. Teknik Pemijahan Lele Semi Intensif. Pemijahan ikan lele semi intensif yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad, tetapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam. Perkembangan dalam budidaya ikan lele khususnya dalam usaha pembenihan ikan lele telah mengalami kemajuan yang sangan pesat. Untuk merangsang pemijahan sekarang dapat digunakan hormon buatan atau hormon sintesis yang banyak diproduksi di luar negeri. Beberapa jenis hormon sintesis tersebut misalnya Ovaprim, HCG, LHRH. Hormon Ovaprim dapat di peroleh di toko-toko yang menjual berbagai macam kebutuhan budidaya perikanan atau toko-toko suplai obat perikanan. Persyaratan agar penyuntikan dengan hormon dapat efektif maka induk ikan lele harus sudah mengandung telur yang siap untuk memijah (matang telur). Apabila kondisi induk tidak matang gonad, tentu injeksi hormon yang dilakukan tidak akan efektif (tidak berhasil). Menyuntik Induk Lele Dengan Hormon Ovaprim Urutan pekerjaan pemijahan induk lele secara semi intensif dengan hormon buatan adalah sebagai berikut : a. Siapkan alat suntik dan hormon Ovaprim untuk disuntikkan. Gunakan injeksi spuit yang sudah dibersihkan dengan air panas atau gunakan alat injeksi yang baru. b. Timbang induk ikan lele (jantan dan betina) dan tentukan dosis Ovaprim. Induk yang beratnya ± 1 kg, dosis hormon Ovaprim 0,3-0,5 ml. Bila beratnya 0,5 kg maka dosis yang diperlukan setengah nya, yakni 0,15 - 0,25 ml (sesuai petunjuk pada wadah hormon tersebut). Sedot dengan alat injeksi spuit sebanyak hormon yang diperlukan, misalnya 0,5 ml. Usahakan posisi botol dan injeksi spuit tegak lurus, botol berada di atas. Setelah itu, sedot lagi dengan injeksi spuit yang sama akuades sebanyak 0,5 ml juga untuk mengencerkannya. • Setelah disuntik, ikan jantan dan betina dimasukkan ke dalam bak pemijahan. c. Cara menyuntik Tangkap induk lele dengan menggunakan seser induk. Kemudian seorang membantu memegang induk lele yang hendak disuntik (ikan betina terlebih dahulu) dengan menggunakan kain untuk menutup dan memegang kepala ikan dan memegang pangkal ekornya. Kemudian suntikkan hormon yang sudah disiapkan tadi ke dalam daging lele di bagian punggung, setengah dosis di sebelah kiri dan setengah dosis disebelah kanan dengan kemiringan jarum sunik 30° - 45º. Kedalaman jarum suntik ± 1 cm dan disesuaikan dengan besar kecilnya tubuh ikan. Lakukan penyuntikan secara hati-hati. Setelah larutan hormon didorong masuk, jarum dicabut lalu bekas suntikkan ditekan/ditutup dangan jari telunjuk beberapa saat agar obat tidak keluar. Menyuntik Induk Lele Dengan Hormon Alamiah (Hipofisa) Hormon ini diambil dari kelenjar hipofisa yang terletak di bagian bawah otak kecil ikan. Setiap ikan (juga makhluk bertulang belakang lainnya) mempunyai kelenjar hipofisa yang terletak di bawah otak kecil. Kelenjar hipofisa ini hanya sebesar butir kacang hijau, bahkan lebih kecil. Untuk menyuntik induk ikan lele diperlukan kelenjar hipofisa yang diambil dari ikan donor, sedangkan penerimanya disebut resipien. Ikan donor dapat dipilihkan dari ikan lele dumbo, ikan mas atau ikan lele local. Karena hormon untuk keperluan penyuntikan diambil dari kelenjar hipofisa maka penyuntikan untuk merangsang pemijahan disebut juga hipofisasi. a. Dosis hipofisa Untuk menyuntik induk ikan lele dibutuhkan kelenjar hipofisa adalah 3 dosis. Artinya, seekor induk lele yang beratnya 1 kg, akan memerlukan kelenjar hipofisa yang berasal dari ikan donor yang berat badannya 3 x 1 kg. Ikan donor seberat 3 kg itu dapat terdiri atas 3 – 6 ekor yang masing-masing beratnya antara 0,5 – 1kg. Sebagai ikan donor sebaiknya dipilihkan ikan yang sudah dewasa. Efektifitas jantan maupun betina sama saja. Jika dipilihkan ikan donor yang belum dewasa atau tidak matang gonad maka kadar hormon di dalam kelenjar hipofisanya sedikit. b. Pengambilan kelenjar hipofisa dan pembuatan ekstrak Cara mengambil kelenjar hipofisa dari ikan donor adalah sebagai berikut : 1. Ikan donor dipegang pada bagian kepalanya. Bila licin, gunakan kain lap. Sementara bagian kepala dipegang, bagian badan diletakkan di atas talenan. Kepala ikan donor dipotong di bagian belakang tutup insangnya hingga kepala putus. 2. Setelah terpotong, bagian atas kepala ikan dipotong di atas mata hingga tulang tengkoraknya terbuka dan otak kelihatan. 3. Otak ini disingkapkan dengan menggunakan pinset maka di bawah otak akan terlihat kelenjar hipofisa berwarna putih sebesar butir kacang hijau. 4. Dengan tetap menggunakan pinset, kelenjar hipofisa diangkat kemudian diletakkan di dalam cawan yang bersih untuk dicuci dengan aquadest hingga darah yang menempel hilang. Cara membersihkannya dengan di semprot-semprot aquadest menggunakan sebuah pipet. 5. Setelah butir kelenjar hipofisa itu bersih lalu dimasukkan ke dalam tabung penggerus. Lalu kelenjar hipofisa tersebut digerus hingga hancur. 6. Selanjutnya, kelenjar tersebut diencerkan dengan 1 ml aquadest. Dengan demikian hormon GSH yang terkandung di dalam kelenjar hipofisa itu akan terlarut dalam cairan. 7. Larutan tersebut diendapkan beberapa menit hingga kotoran tampak mengendap di dasar. Cairan bagian atas diambil dengan alat injeksi spuit untuk disuntikkan kepada induk ikan lele. c. Penyuntikan ekstrak hipofisa Hormon di dalam spuit injeksi disuntikkan pada punggung induk ikan lele. Proses penyuntikan sama seperti pada penggunaan hormon buatan. Setelah disuntik induk ikan lele dimasukkan ke dalam bak pemijahan. C. Teknik Pemijahan Buatan / Intensif. Hormon ovaprim adalah hormone sintetis yang digunakan untuk mempercepat kematangan gonad induk ikan. Induk dipilih yang sudah hampir matang gonad kemudian dilakukan pemberokan 1-2 hari, dipelihara dalam air mengalir dan tidak diberi makan. Induk dilakukan penyuntikan hormon perangsang (ovaprim) dengan dosis 0,5 ml/kg ikan. Penyuntikan dilakukan dua kali secara intramuskular, penyuntikan pertama dengan dosis 20% dan diencerkan dengan NaCl Fis sampai 0,8 – 1,0 ml. Penyuntikan kedua dilakukan setelah selang 6 jam dari penyuntikan pertama. Penyuntikan kedua dengan dosis 80% diencerkan dengan NaCl Fis sampai 0,8 – 1,0 ml. Penyuntikan dilakukan dibagian kiri dan kanan belakang sirip punggung dengan posisi jarum suntik membentuk sudut 30°- 45° sejajar panjang tubuh. Sperma untuk fertilisasi diperoleh dari induk jantan donor. Cara pengambilan sperma adalah sebagai berikut: Potong induk donor tepat diantara kepala dan badan. Buka rongga perut dari depan ke arah anus. Angkat kantong sperma yang berwarna putih susu, berbentuk panjang, pipih dan bergerigi dari rongga perut kemudian bersihkan. Setelah sperma dibersihkan, sperma disimpan di dalam kantong plastic dan dimasukan ke dalam lemari es pada suhu 2 ˚C. Proses Pemijahan Buatan Pengambilan (stripping) telur betina dilakukan 10 – 12 jam setelah penyuntikan kedua (masa ovulasi telur telah selesai), hal ini ditandai dengan keluarnya beberapa butir telur di dasar bak. Apabila ovulasi telah terjadi maka sperma harus disiapkan untuk membuahi telur. Sebelum digunakan sperma yang telah disimpan direndam dalam larutan Na fisiologis untuk mengembalikan ke suhu normal dan untuk memudahkan saat di potong. Setelah 1 menit perendaman, kantong sperma dipotong dengan gunting agar sperma di dalamnya dapat dikeluarkan, kemudian dicampur dengan Na fisiologis di dalam mangkok. Setelah sperma siap, induk betina di striping untuk mengeluarkan telur. Adapun cara striping adalah sebagai berikut: Kepala induk dipegang menggunakan kain lap agar induk lebih tenang pada saat di stripping. Perut induk diurut dari depan ke arah lubang urogenital secara perlahan dan hati-hati. Telur yang keluar ditampung di dalam mangkok yang terbuat dari plastik Induk distriping sampai tidak ada lagi telur yang keluar, kemudian telur dicampur dengan sperma menggunakan bulu ayam dan diaduk perlahan-lahan selama 1 -3 menit searah jarum jam. Sebelum ditebar telur dan sperma yang telah diaduk dibilas dengan air untuk membersihkan sisa sperma yang mati dan tidak membuahi telur serta lendir yang melekat pada telur. Setelah itu telur dapat ditebar pada kolam, fiber atau aquarium, tetapi agar lebih mudah diamati lebih baik menggunakan aquarium. Penebaran dilakukan menggunakan bulu ayam (karena daya lekat telur pada bulu ayam lebih kecil dibandingkan pada benda lain), agar telur dapat merata ke seluruh dasar bak/aquarium diisarankan agar telur jangan langsung dituang ke dalam wadah, karena telur akan bergerombol. Hal ini akan meningkatkan kemungkinan telur terserang jamur dan tidak menetas. Kemudian telur siap di tebar di kolam dan diaerasi setelah itu biarkan menetas. Dalam pelaksanaan penetasan telur parameter kualitas air harus di jaga terutama suhu, kecerahan, dan kandungan oksigen terlarut. Telur ikan biasanya akan menetas dalam jangka waktu 20-36 jam pada suhu 28 oC PENDEDERAN Setelah berhasil dipijahkan Induk Jantan dan betina dipindah ke kolam pemeliharaan induk. Seandainya telur yang dihasilkan dirasa terlalu banyak (untuk mengurangi kepadatan) sebaiknya dibagi dalam beberapa bak penetasan telur/ kolam pendederan dengan memindahkan ijuk tempat telur menempel. Apabila telur ditetaskan dalam kolam pemijahan maka lama pemeliharaan benih di tempat pemijahan ± 2-3 minggu. Setelah telur menetas pada hari kedua benih lele diberi pakan tambahan berupa pakan alami seperti : artemia, kutu air dan cacing sutra. Pemindahan benih dilakukan dengan cara membuka saluran pengeluaran dan benih ditampung dengan wadah baru kemudian didederkan, sebaiknya pemindahan dilakukan saat suhu masih rendah, terutama pagi hari. Kolam pendederan sebaiknya diberi atap agar tidak terkena sinar matahari secara langsung (maupun air hujan) untuk menghindari fluktuasi suhu mendadak. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari pada saat suhu rendah. Untuk benih ukuran 1-2 cm padat tebar ideal 3000-5000 ekor/ m2, benih ukuran 2-3 cm padat tebar ideal 2000-3000 ekor/m2. Selama pemeliharaan benih diberi pakan pelet berkadar protein 40%. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari dengan dosis 10-25% dari total bobot benih. Masa pendederan benih dipelihara selama 1-2 bulan atau tergantung kebutuhan. PEMANENAN DAN PENGEPAKAN BENIH Benih Lele dipanen melalui pintu pengeluaran atau ditangkap dengan seser/serok atau alat yang lain kemudian ditampung dalam bak, happa atau tong plastik untuk membuang kotoran yang menempel pada tubuh lele. Pengepakan dan pengangkutan dapat dilakukan dengan sistem terbuka maupun tertutup. Pengangkutan sistem tertutup adalah untuk benih yang berukuran kecil dengan menggunakan oksigen pada kantong plastik. Sedangkan pengangkutan sistem terbuka dilakukan untuk benih lele yang berukuran besar (20-50 gram/ekor) dapat diangkut dengan menggunakan wadah jerigen plastik maupun blung. Air yang digunakan untuk pengangkutan sebaiknya diendapkan 1 – 3 hari dengan diberi aerasi (untuk untuk menghindari gas beracun). Sebelum diangkut benih dipuasakan beberapa jam agar selama pengangkutan tidak mengeluarkan kotoran. Sistem Waktu (jam) Kepadatan (ekor/liter air) Keterangan Terbuka Terbuka Tertutup Tertutup Tertutup tertutup <7 4 – 8 <7 4 – 8 8 – 24 >24 250 250 200 150 150 75 Jerigen plastik Jerigen plastik Kantong plastik Kantong plastik Kantong plastik Kantong plastik Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Departemen Pertanian 1992 Kapasitas kantong plastik antara 2 – 20 liter, tergantung jumlah benih yang diangkut. Setelah benih berada dalam kantong plastik, diberi oksigen kemudian ujung plastik diikat. Benih siap diangkut. (Widodo : http://www.iwakfish.co.cc ) Diposkan oleh PERIKANAN budidaya di 11:18 0 komentar Rabu, 2009 April 29 Budidaya Lobster air Tawar BUDIDAYA LOBSTER AIR TAWAR Hingga kini, belum banyak orang yang menggeluti usaha budidaya lobster air tawar. Salah satu penyebabnya adalah belum banyak yang mengetahui keberadaan lobster air tawar. Kebanyakan orang hanya mengetahui lobster air laut yang ditangkap oleh para nelayan. Ukuran dan bentuk lobster air tawar memang mirip dengan lobster air laut. Perbedaannya, lobster air tawar dapat dibudidayakan, sedangkan lobster air laut hingga kini belum berhasil dibudidayakan. Banyak Rumah Makan di Jakarta membutuhkan udang jenis ini untuk menu masakan karena rasanya tidak kalah enak dengan lobster hasil tangkapan dari laut, disamping ukuran lobster air tawar lebih simple untuk disajikan di atas piring. KIAT MEMELIHARA LOBSTER Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam pemeliharaan lobster ini, diantaranya seleksi induk, pemeliharaan induk, pemijahan dan pengeraman telur hingga penetasan serta perawatan larva sampai ukuran konsumsi. I. SELEKSI INDUK Awal dari seleksi induk ini, harus bisa membedakan jenis kelamin induk jantan dan betina, misalnya : Untuk induk jantan terdapat tonjolan pada pasangan kaki jalan kelima dihitung dari capitnya dan biasanya sisi capit ditandai dengan warna merah. Untuk induk betina terdapat lubang pada pangkal kaki jalan ketiga. Hal-hal lain yang kita perhatikan dalam seleksi induk adalah : Induk minimal berumur 8 bulan Bobot induk jantan diatas 30 gram Bobot induk betina 20 gram – 30 gram Kondisi sehat II. PEMELIHARAAN INDUK Hasil dari seleksi induk dipelihara dalam wadah terpisah antara jantan dan betina agar bisa terkontrol dan tidak terjadi perkawinan muda / dini (belum cukup umur) Wadah / bak / kolam untuk pemeliharaan induk harus dilengkapi dengan sellter berupa potongan-potongan pralon dengan lubang disesuaikan dengan besarnya induk, dapat juga berupa rafia sebanyak 5% dari luas kolam (lebih banyak lebih baik). Sellter berguna sebagai tempat berlindung bagi lobster lain yang lebih perkasa, mengingat lobster mempunyai sifat kanibal yang sangat tinggi. III. PEMIJAHAN Dalam proses pemijahan, induk jantan dan induk betina kita masukkan dalam satu wadah / aquarium / bak dengan perbandingan 3 jantan : 5 betina (1 set induk). Setelah melalui proses perkawinan (+ 1–2 minggu), induk betina mulai mengeluarkan telurnya pada bagian bawah perut. Tanda bahwa induk betina telah bertelur, ekor akan selalu melipat ke bawah untuk melindungi telurnya dari bahaya. Induk yang telah bertelur diambil dengan hati-hati untuk dipindah ke wadah / aquarium. Sebaiknya 1 wadah / aquarium disi satu induk yang membawa telur. IV. PENGERAMAN TELUR DAN PENETASAN Telur dari hasil pemijahan biasanya digendong induknya dan dilindungi dengan ekornya, untuk menunggu matangnya telur sampai menetas biasanya dierami selama 30 – 45 hari. Induk yang sedang mengerami telur biasanya puasa, artinya jarang makan. Oleh karena itu pada saat pengeraman sebaiknya pemberian pakan dikurangi untuk menghindari tumbuhnya jamur karena air kotor. Selama pengeraman, sebaiknya lobster diperlakukan dengan hati-hati, agar telur tidak rontok ataupun rusak akibat salah penanganan, misalnya : Kualitas air harus tetap dijaga dengan cara pengambilan sisa pakan ataupun kotoran dengan cara penyiponan. Untuk menghindari stress, dilakukan pergantian air + 50% dengan hati-hati. Telur yang sudah menetas biasanya dipisahkan dari induknya setelah umur 1 minggu dengan diberi sellter berupa rafia yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai rumput dan potongan beberapa pralon kecil-kecil. V. PEMELIHARAAN LARVA Setelah berumur 1 minggu larva lobster mulai mencari makanan. Oleh karena itu kita berikan makanan tambahan. Makanan tersebut bisa cacing rambut ataupun pelet (D 0). Usahakan kondisi bak / aquarium ini selalu bersih, sehingga apabila ada sisa makanan harus segera disiphon. Padat penebaran untuk larva umur 1 – 30 hari bisa mencapai 500 – 1.000 ekor/m2. VI. BUDIDAYA Larva yang telah berumur lebih dari 1 bulan, dapat kita pelihara pada kolam pembesaran. Padat penebaran 50 – 100 ekor/m2. Sebaiknya kolam dibuat permanen untuk menghindari lobster merambat dan pergi. Kedalaman kolam antara 30 – 60 cm. Pakan yang diberikanan berupa pellet tenggelam sebanyak 3% berat populasi per hari. Lama pemeliharaan 6 bulan dengan berat rata-rata mencapai 50 – 60 gram. Diposkan oleh PERIKANAN budidaya di 11:34 0 komentar alternatif media belut Media Belut : Media pemeliharaan belut yang dipilih sebaiknya belut bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Media pada masing2 type sbb : a. Type I : 80% tanah sawah (dari tinggi kolam) misal tinggi kolam 80cm maka tinggi tanah 80% x 80cm = 64cm; 10% gedebok pisang busuk; 10% jerami busuk. b. Type II : tanah 80% dari tinggi media; 20% jerami atau 20% gedebok pisang busuk. c. Type III : Gedebok pisang busuk 100%, caranya pohon pisang dipotong-potong 30cm, lalu ditumpuk rapi dalam kolam, biarkan sampai benar2 busuk. d. Type IV : Gedebok pisang dipotong-potong / dirajang (letakkan pada susunan paling bawah di kolam); lumpur sawah yang telah dilumatkan dengan air; jerami padi dirajang; dan kompos. Lalu isi air hingga air menggenang setinggi 3 cm dari permukaan media) Kemudian lakukan fermentasi dengan ditambahkan Starter Microorganisme (EM4), biarkan selama 2 minggu - 1 bulan, tunggu sampai media benar-benar telah siap. e. Type V : 100% tanah (biasanya untuk type kolam sawah) Diposkan oleh PERIKANAN budidaya di 10:19 0 komentar Langgan: Entri (Atom) Pengikut Arsip Perikanan▼ 2009 (5) ▼ Mei (3) Budidaya Belut USAHA BUDIDAYA BANDENG UMPAN Disusun oleh : Widodo... Teknologi Pembenihan Lele ► April (2) Budidaya Lobster air Tawar alternatif media belut Mengenai Saya Widodo Kendal, Jawa Tengah, Indonesia Lihat profil lengkapku ----------- Untuk mengetahui bagaimana budidaya belut silakan kunjungi URL ini http://iptek.apjii.or.id/ Membesarkan belut hingga siap panen dari bibit umur 1-3 bulan butuh waktu 7 bulan. Namun, Ruslan Roy, peternak sekaligus eksportir di Jakarta Selatan, mampu menyingkatnya menjadi 4 bulan. Kunci suksesnya antara lain terletak pada media dan pengaturan pakan. Belut yang dipanen Ruslan rata-rata berbobot 400 g/ekor. Itu artinya sama dengan bobot belut yang dihasilkan peternak lain. Cuma waktu pemeliharaan yang dilakukan Ruslan lebih singkat 3 bulan dibanding mereka. Oleh karena itu, biaya yang dikeluarkan Ruslan pun jauh lebih rendah. Selain menekan biaya produksi, panen dalam waktu singkat itu mampu mendongkrak ketersediaan pasokan, ujar Ruslan. Pemilik PT Dapetin di Jakarta Selatan itu hanya mengeluarkan biaya Rp8.000 untuk setiap kolam berisi 200 ekor. Padahal, biasanya para peternak lain paling tidak menggelontorkan Rp14.000 untuk pembesaran jumlah yang sama. Semua itu karena Ruslan menggunakan media campuran untuk pembesarannya. Media campuran Menurut Ruslan, belut akan cepat besar jika medianya cocok. Media yang digunakan ayah dari 3 anak itu terdiri dari lumpur kering, kompos, jerami padi, pupuk TSP, dan mikroorganisme stater. Peletakkannya diatur: bagian dasar kolam dilapisi jerami setebal 50 cm. Di atas jerami disiramkan 1 liter mikroorganisma stater. Berikutnya kompos setinggi 5 cm. Media teratas adalah lumpur kering setinggi 25 cm yang sudah dicampur pupuk TSP sebanyak 5 kg. Karena belut tetap memerlukan air sebagai habitat hidupnya, kolam diberi air sampai ketinggian 15 cm dari media teratas. Jangan lupa tanami eceng gondok sebagai tempat bersembunyi belut. Eceng gondok harus menutupi ¾ besar kolam, ujar peraih gelar Master of Management dari Philipine University itu. Bibit belut tidak serta-merta dimasukkan. Media dalam kolam perlu didiamkan selama 2 minggu agar terjadi fermentasi. Media yang sudah terfermentasi akan menyediakan sumber pakan alami seperti jentik nyamuk, zooplankton, cacing, dan jasad-jasad renik. Setelah itu baru bibit dimasukkan. Pakan hidup Berdasarkan pengalaman Ruslan, sifat kanibalisme yang dimiliki Monopterus albus itu tidak terjadi selama pembesaran. Asal, pakan tersedia dalam jumlah cukup. Saat masih anakan belut tidak akan saling mengganggu. Sifat kanibal muncul saat belut berumur 10 bulan, ujarnya. Sebab itu tidak perlu khawatir memasukkan bibit dalam jumlah besar hingga ribuan ekor. Dalam 1 kolam berukuran 5 m x 5 m x 1 m, saya dapat memasukkan hingga 9.400 bibit, katanya. Pakan yang diberikan harus segar dan hidup, seperti ikan cetol, ikan impun, bibit ikan mas, cacing tanah, belatung, dan bekicot. Pakan diberikan minimal sehari sekali di atas pukul 17.00. Untuk menambah nafsu makan dapat diberi temulawak Curcuma xanthorhiza. Sekitar 200 g temulawak ditumbuk lalu direbus dengan 1 liter air. Setelah dingin, air rebusan dituang ke kolam pembesaran. Pilih tempat yang biasanya belut bersembunyi, ujar Ruslan. Pelet ikan dapat diberikan sebagai pakan selingan untuk memacu pertumbuhan. Pemberiannya ditaburkan ke seluruh area kolam. Tak sampai beberapa menit biasanya anakan belut segera menyantapnya. Pelet diberikan maksimal 3 kali seminggu. Dosisnya 5% dari bobot bibit yang ditebar. Jika bibit yang ditebar 40 kg, pelet yang diberikan sekitar 2 kg. Hujan buatan Selain pakan, yang perlu diperhatikan kualitas air. Bibit belut menyukai pH 5-7. Selama pembesaran, perubahan air menjadi basa sering terjadi di kolam. Air basa akan tampak merah kecokelatan. Penyebabnya antara lain tingginya kadar amonia seiring bertumpuknya sisa-sisa pakan dan dekomposisi hasil metabolisme. Belut yang hidup dalam kondisi itu akan cepat mati, ujar Son Son. Untuk mengatasinya, pH air perlu rutin diukur. Jika terjadi perubahan, segera beri penetralisir. Kehadiran hama seperti burung belibis, bebek, dan berang-berang perlu diwaspadai. Mereka biasanya spontan masuk jika kondisi kolam dibiarkan tak terawat. Kehadiran mereka sedikit-banyak turut mendongkrak naiknya pH karena kotoran yang dibuangnya. Hama bisa dihilangkan dengan membuat kondisi kolam rapi dan pengontrolan rutin sehari sekali, tutur Ruslan. Suhu air pun perlu dijaga agar tetap pada kisaran 26-28oC. Peternak di daerah panas bersuhu 29-32oC, seperti Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi, perlu hujan buatan untuk mendapatkan suhu yang ideal. Son Son menggunakan shading net dan hujan buatan untuk bisa mendapat suhu 26oC. Bila terpenuhi pertumbuhan belut dapat maksimal, ujar alumnus Institut Teknologi Indonesia itu. Shading net dipasang di atas kolam agar intensitas cahaya matahari yang masuk berkurang. Selanjutnya 3 saluran selang dipasang di tepi kolam untuk menciptakan hujan buatan. Perlakuan itu dapat menyeimbangkan suhu kolam sekaligus menambah ketersediaan oksigen terlarut. Ketidakseimbangan suhu menyebabkan bibit cepat mati, ucap Son Son. Hal senada diamini Ruslan. Jika tidak bisa membuat hujan buatan, dapat diganti dengan menanam eceng gondok di seluruh permukaan kolam, ujar Ruslan. Dengan cara itu bibit belut tumbuh cepat, hanya dalam tempo 4 bulan sudah siap panen. (Hermansyah) Mari Rebut Pasar Belut Siang itu Juli 2006 di Batutulis, Bogor. Pancaran matahari begitu terik membuat Ruslan Roy berteduh. Ia tetap awas melihat kesibukan pekerja yang memilah belut ke dalam 100 boks styrofoam. Itu baru 3,5 ton dari permintaan Hongkong yang mencapai 60 ton/hari, ujar Ruslan Roy. Alumnus Universitras Padjadjaran Bandung itu memang kelimpungan memenuhi permintaan belut dari eksportir. Selama ini ia hanya mengandalkan pasokan belut dari alam yang terbatas. Sampai kapan pun tidak bisa memenuhi permintaan, ujarnya. Sebab itu pula ia mulai merintis budidaya belut dengan menebar 40 kg bibit pada Juli 1989. Roy-panggilan akrab Ruslan Roy-memperkirakan seminggu setelah peringatan Hari Kemerdekaan ke-61 RI semua Monopterus albus yang dibudidayakan di kolam seluas 25 m2 itu siap panen. Ukuran yang diminta eksportir untuk belut konsumsi sekitar 400 g/ekor. Bila waktu itu tiba, eksportir di Tangerang yang jauh-jauh hari menginden akan menampung seluruh hasil panen. Untuk mengejar ukuran konsumsi, peternak di Jakarta Selatan itu memberi pakan alami berprotein tinggi seperti cacing tanah, potongan ikan laut, dan keong mas. Pakan itu dirajang dan diberikan sebanyak 5% dari bobot tubuh/hari. Dengan asumsi tingkat kematian 5-10% hingga berumur 9 bulan, Roy menghitung 4-5 bulan setelah menebar bibit, ia bakal memanen 400 kg belut. Dengan harga Rp40.000/kg, total pendapatan yang diraup Rp16-juta. Setelah dikurangi biaya-biaya sekitar Rp2-juta, diperoleh laba bersih Rp14-juta. Keuntungan itu akan semakin melambung karena pada saat yang sama Roy membuat 75 kolam di Rancamaya, Bogor, masing-masing berukuran sekitar 25 m2 berkedalaman 1 m. Pantas suami Kastini itu berani melepas pekerjaannya sebagai konsultan keuangan di Jakarta Pusat. Perluas areal Nun di Bandung, Ir R. M. Son Son Sundoro, lebih dahulu menikmati keuntungan hasil pembesaran belut. Itu setelah ia dan temannya sukses memasok ke beberapa negara. Sebut saja Hongkong, Taiwan, Cina, Jepang, Korea, Malaysia, dan Thailand. Menurut Son Son pasar belut mancanegara tidak terbatas. Oleh karena itu demi menjaga kontinuitas pasokan, ia dan eksportir membuat perjanjian di atas kertas bermaterai. Maksudnya agar importir mendapat jaminan pasokan. Sejak 1998, alumnus Teknik dan Manajemen Industri di Institut Teknologi Indonesia, itu rutin menyetor 3 ton/hari ke eksportir. Itu dipenuhi dari 30 kolam berukuran 5 m x 5 m di Majalengka, Ciwidey, Rancaekek, dan 200 kolam plasma binaan di Jawa Barat. Ia mematok harga belut ke eksportir US$4-US$5, setara Rp40.000-Rp60.000/kg isi 10-15 ekor. Sementara harga di tingkat petani plasma Rp20.000/kg. Permintaan ekspor belut Negara Tujuan Kebutuhan (ton/minggu) Jepang 1.000 Hongkong 350 Cina 300 Malaysia 80 Taiwan 20 Korea 10 Singapura 5 Sumber: Drs Ruslan Roy, MM, Ir R. M. Son Son Sundoro, http://www.eelstheband.com/, dan telah diolah dari berbagai sumber. Terhitung mulai Juli 2006, total pasokan meningkat drastis menjadi 50 ton per hari. Itu diperoleh setelah pria 39 tahun itu membuka kerjasama dengan para peternak di dalam dan luar Pulau Jawa. Sebut saja pada awal 2006 ia membuka kolam pembesaran seluas 168 m2 di Payakumbuh, Sumatera Barat. Di tempat lain, penggemar travelling itu juga membuka 110 kolam jaring apung masing-masing seluas 21 m2 di waduk Cirata, Kabupaten Bandung. Total jenderal 1-juta bibit belut ditebar bertahap di jaring apung agar panen berlangsung kontinu setiap minggu. Dengan volume sebesar itu, ayah 3 putri itu memperkirakan keuntungan sebesar US$2.500 atau Rp 20.500.000 per hari. Di Majalengka, Jawa Barat, Muhammad Ara Giwangkara juga menuai laba dari pembesaran belut. Sarjana filsafat dari IAIN Sunan Gunungjati, Bandung, itu akhir Desember 2005 membeli 400 kg bibit dari seorang plasma di Bandung seharga Rp11,5- juta. Bibit-bibit itu kemudian dipelihara di 10 kolam bersekat asbes berukuran 5 m x 5 m. Berselang 4 bulan, belut berukuran konsumsi, 35-40 cm, sudah bisa dipanen. Dengan persentase kematian dari burayak hingga siap panen 4%, Ara bisa menjual sekitar 3.000 kg belut. Karena bermitra, ia mendapat harga jual Rp12.500/ kg. Setelah dikurangi ongkos perawatan dan operasional sebesar Rp9- juta dan pembelian bibit baru sebesar Rp11,5- juta, tabungan Ara bertambah Rp17-juta. Bagi Ara hasil itu sungguh luar biasa, sebab dengan pendapatan Rp3- juta- Rp4-juta per bulan, ia sudah bisa melebihi gaji pegawai negeri golongan IV. Bibit meroket Gurihnya bisnis belut tidak hanya dirasakan peternak pembesar. Peternak pendeder yang memproduksi bibit berumur 3 bulan turut terciprat rezeki. Justru di situlah terbuka peluang mendapatkan laba relatif singkat. Apalagi kini harga bibit semakin meroket. Kalau dulu Rp10.000/kg, sekarang rata-rata Rp27.500/kg, tergantung kualitas, ujar Hj Komalasari, penyedia bibit di Sukabumi, Jawa Barat. Ia menjual minimal 400-500 kg bibit/bulan sejak awal 1985 hingga sekarang. Pendeder pun tak perlu takut mencari pasar. Mereka bisa memilih cara bermitra atau nonmitra. Keuntungan pendeder bermitra: memiliki jaminan pasar yang pasti dari penampung. Yang nonmitra, selain bebas menjual eceran, pun bisa menyetor ke penampung dengan harga jual lebih rendah 20-30% daripada bermitra. Toh, semua tetap menuai untung. Sukses Son Son, Ruslan, Ara, dan Komalasari memproduksi dan memasarkan belut sekarang ini bak bumi dan langit dibandingkan 8 tahun lalu. Siapa yang berani menjamin kalau belut booming gampang menjualnya? ujar Eka Budianta, pengamat agribisnis di Jakarta. Menurut Eka, memang belut segar kini semakin dicari, bahkan harganya semakin melambung jika sudah masuk ke restoran. Untuk harga satu porsi unagi-hidangan belut segar-di restoran jepang yang cukup bergengsi di Jakarta Selatan mencapai Rp250.000. Apalagi bila dibeli di Tokyo, Osaka, maupun di restoran jepang di kota-kota besar dunia. Dengan demikian boleh jadi banyak yang mengendus peluang bisnis belut yang kini pasarnya menganga lebar. Maklum pasokan belut-bibit maupun ukuran konsumsi-sangat minim, sedangkan permintaannya membludak. (Hermansyah/Peliput: Lani Marliani) Sumber : http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=5&artid=386 Agustus 28th, 2007 Kategori: Perikanan . . Penulis: Anas Ariffudin en by Rheza Permana Wednesday, 04 March 2009 13:49 Peluang Budidaya Belut Tak heran jika akhir-akhir ini banyak media mengekspos tentang besarnya peluang bisnis budidaya belut. Dan bagi yang terbiasa ‘melek’ di depan internet, mungkin juga tak jarang menemukan sebuah forum yang memperbincangkan tentang gurihnya berbisnis di bidang yang satu ini. Sebenarnya seberapa besar peluang budidaya belut? Mengandalkan belut tangkapan dari alam untuk dipasarkan kembali ternyata sudah bukan sesuatu yang mudah lagi. Pasokan yang didapat dengan cara tersebut lama kelamaan semakin menipis. Berangkat dari kenyataan tersebutlah Ardiyan Taufik, pria dari kota Solo yang telah bergelut dalam bisnis ekspor belut semenjak 4 tahun yang lalu, akhirnya mulai merintis budidaya belut. Ia banyak berhubungan dengan para pengepul di berbagai daerah di Tanah Air untuk kemudian dikumpulkan dan dijual ke luar negeri. Bisnis budidaya belut sendiri dimulai sekitar 1,5 tahun yang lalu (awal tahun 2006).Berdasarkan pengalaman bisnis budidayanya, menurut Ardiyan budidaya belut terbilang tidak sulit. Pebisnis yang ingin serius menekuni budidaya belut hanya dituntut untuk intens dalam hal perawatan dan pemberian pakan. Sementara dalam pemberian pakan pun, kata Ardian, pakan belut termasuk simpel. Pakan belut itu tidak berhubungan dengan pabrik. “Pakannya bisa keong mas atau bekicot. Jadi tidak tergantung pada pakan hasil pabrik,” ujar Ardiyan. Berdasarkan hitung-hitungan biaya operasional, biaya pakan tersebut menurut Ardiyan hanya menggunakan 15%-20% dari biaya operasional. Jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan komoditas perikanan lain yang biaya pakannya menelan hingga 60% dari biaya operasional. Hanya saja menurut Ardiyan, banyak peternak pemula yang belum mengetahui seluk beluk membudidayakan komoditas yang satu ini. Biasanya para pemula akan bersemangat hanya sekitar 1 hingga 5 minggu di awal bisnis budidayanya. Selanjutnya mereka mengira bahwa usaha tidak berhasil karena tidak melihat tanda-tanda kehidupan ternak di siang hari. Padahal belut memang tidak aktif seperti produk perikanan lainnya. “Belut ini hewan malam, dan nyaris tidak kelihatan, tidak seperti ikan,” ujar Ardiyan. Berminat budidaya belut, pada dasarnya modal menurut Ardiyan bukanlah yang utama. Jika calon pebisnis memiliki kolam semen, atau bahkan jika tidak ada bisa menggunakan kolam terpal. Sementara untuk bibitnya calon pebisnis bisa memulai dengan berusaha mendapatkan bibit dari sawah. Bibit belut bisa lebih mudah didapatkan di sekitar pertanian organik. Jika tidak bisa didapat dengan cara gratis, sambung Ardiyan, bibit belut sawah bisa didapat dengan harga sekitar Rp25.000/kg. Jika dibudidayakan secara intens, bibit belut berukuran sebesar rokok akan membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 6 bulan untuk bisa dipanen untuk kemudian dipasarkan. Pilihannya ada pada pebisnis sendiri. Jika ingin dipasarkan secara lokal, biasanya waktu 3, 4 atau 5 bulan cukup untuk budidaya. Sementara untuk pasar ekspor biasanya akan memakan waktu 6 bulan. Bicara harga jual juga menarik. Dari hasil panen, Ardiyan bisa mematok harga sekilo belut isi 10 seharga Rp15.000 untuk pasar lokal, bahkan bisa mencapai Rp18.000 di enuser. Sementara untuk pasar ekspor biasanya sekilo isi 10 dengan harga Rp20.000. Tentang pasar ekspor belut sendiri, Ardiyan juga lebih tahu. “Coba saja lihat Singapura dan Malaysia, mereka darimana mendapatkan belut, kan tidak ada sawah,” ilustrasi Ardiyan. Jadi jika pun ada pihak-pihak yang pesimis dengan tidak adanya pasar ekspor bagi hasil budidaya belut Tanah Air, menurutnya harus dibuktikan sendiri. Hanya saja pebisnis yang benar-benar menekuni budidaya sekaligus pemasaran seperti Ardiyan, tentu saja tak bisa hanya mengandalkan modal dan ketekunan saja. “Siapa saja bisa berjualan, tapi tentu saja untuk menembus tempat yang dituju Kita harus mengembangkan relasi,” tutur Ardiyan. (SH) Comments (0) Last Updated on Sunday, 03 May 2009 00:02

No comments:

Post a Comment

Thank you, for your comment.