Trading Commodities Gold Silver Community Group on Facebook.com


My Simple Money Management for Gold and Silver Trading on Marketiva and InstaForex


Klik disini untuk bergabung di Forum Forex Indonesia yang khusus berdiskusi tentang Trading Gold bersama Ribuan Trader Gold diseluruh Indonesia



Just for Introduction from me...

FOREX FORUM THAT'S PAY YOU FOR POSTING...! = $ 0.20 USD/POST

Hi, I am Ayahama. I am an InstaForex Partner and I am a Pinbar Trader. You can learn about Pinbar on my other site here.

If you are new on Forex, then first of all (before you decide open an forex trading account), please consider to learn more about forex on Forex Forum. And I recomended you to Join this Very Useful Forex Forum. In that forum, you can post a questions about all you want to know about forex trading. I am sure, in a short time - your question will be answer by someone whose was expert on forex trading and give the useful answer for your question.

And the unique of that forum is : For every your post, it is will be pay to you about $ 0.20 USD. For example on January - you had make post for about 20 post. It is mean on the first February your forex account will be creditted about $ 4 USD. How about you can post 100 post every month? - Just use your Calculator to sum your bonus !.

Ok. if you are interested to join this forex forum, just clik here and follow to signup (Good luck).

If you are have any question, please tell me - I am on Facebook - click here.

Regards,

AYAHAMA




Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

www.libertyreserve.com

Friday, June 05, 2009

Backup Dokumentasi Pakan Alternatif dengan Keong Mas (1)

1. KEONG MAS, SUMBER PAKAN DAN OBAT-OBATAN Dalam konsep pengelolaan, kita tidak hanya terbatas pada pemberantasan dan pengendalian populasi keong tersebut, namun juga pemanfaatan biota terebut sebagai sumber ekonomi bagi masyarakat. Beberapa jenis pemanfaatan keong mas tersebut disampaikan sebagai berikut: Pengembangan pakan ternak Pada pengembangan ternak itik, keong mas (setelah dicincang) merupakan makanan campuran sebagai sumber protein yang murah. Selain mengandung banyak protein, keong mas juga kaya akan kalsium. Keong mas dapat juga dijadikan tepung, setelah direbus, dikeringkan dan digiling terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan dedak padi dan menir dengan perbandingan masing-masing 3,4 persen, 73,3 persen, dan 23,3 persen (Bagus, 1999). Penggunaan keong mas sebagai makanan itik sebagai sumber protein hewani telah dilakukan sejak tahun 1985 (Kompiang dkk., 1985). Akhir-akhir ini banyak wilayah padi dan wilayah ternak itik seperti halnya di daerah Banten, Jawa Tengah, Riau, dan beberapa daerah di Sulawesi dan Kalimantan telah memanfaatkan keong mas ini sebagai sumber pakan itik. Di Sumatra Selatan, pemberian ramuan keong mas 10% memberikan pertumbuhan yang baik bagi itik pada periode layer (bertelur). Di Pasaman, penggunaan keong mas untuk pakan itik mampu menaikkan hasil telurnya mencapai 80 persen. Pemberikan tepung keong mas pada peternakan ayam broiler juga telah dilakukan oleh Widyatmoko (1996). Tepung tubuh dan cangkang keong mas memberikan nilai pertumbuhan yang cukup baik bagi peternakan ayam. Hal yang cukup mengejutkan bahwa penggunaan tepung yang berasal dari cangkang keong mas juga memberikan nilai pertumbuhan yang bagus. Selain dalam bentuk tepung, silase daging keong mas juga telah terbukti menjadi sumber pakan ternak bagi ruminansia dan ayam buras (BP2TP Sumatra Utara, 2006). Pakan yang berbasis protein keong mas pernah diujicobakan pada peternakan burung puyuh (Coturnix coturnix) dan memberikan pertumbuhan yang baik. Keong mas sebagai sumber pakan ikan dan organisma perairan lainnya saat ini sudah mulai banyak dilakukan oleh berbagai kalangan para pembudi daya. Pada pemeliharaan ikan patin (Pangasius sp.) tepung keong mas sejak tahun 1999 telah diujicobakan. Pada penggantian kandungan tepung ikan menjadi tepung keong mas sebanyak 25-75 persen memberikan pengaruh yang cukup baik terhadap laju pertumbuhan harian individu, efisiensi pakan, retensi protein dan retensi lemak (Sholikhati, 1999). Keong mas yang dipotong-potong kemudian ditaburkan pada kolam ikan patin juga telah dilakukan oleh para petani di Kabupaten Bengkalis. Pemeliharaan ikan patin (Pangasius sp.) di Bengkalis, dengan pakan keong mas memberikan hasil yang cukup baik bagi pertumbuhan ikan tersebut. Pada budi daya ikan nila (Orochromis niloticus), komposisi 50% tepung ikan dan 50% telung keong mas memberikan pertumbuhan yang cukup baik, dengan nilai konversi pakan yang rendah (Abdullah,2000). Di Medan, pakan ikan mas dibuat ransumnya dari keong mas. Dalam pembuatan pakan ikan mas, dapat diperoleh sekitar 170 kg tepung keong mas/minggu.Pada pemeliharaan ikan gabus (Chana striata) yang diberi pakan keong mas memberikan pertumbuhan yang cukup baik. Selain itu, pakan yang dibuat dari keong mas juga telah dilakukan pada pemeliharaan ikan sidat (Anguilla sp.). Penggunaan keong mas untuk pakan Krustase telah dibuktikan pada udang dan kepiting. Pada budi daya udang windu, penggunaan pakan keong mas sudah dilakukan dalam uji coba oleh Bombeo-Tuburan dkk. pada tahun 1995. Pada pematangan gonad kepiting bakau (Scylla spp.) di Pantai Mayangan (Subang) dapat diketahui bahwa pemberian pakan berupa keong mas dapat mempersiangkat sampai 1/3 kali masa pemeliharaan dibandingkan dengan pemberian pakan yang berasal dari ikan. Penggunaan keong mas untuk pakan lobster air tawar telah diujicobakan di suatu universitas di Yogyakarta dan juga telah dilakukan oleh beberapa petani yang membudi daya lobster. Sumber makanan dan obat-obatan Keong mas mengandung protein yang cukup tinggi. Dari hasil uji proksimat dapat diketahui bahwa kandungan protein bisa mencapai 16-50 persen. Sebagai sumber protein masyarakat, keong mas merupakan makanan yang cukup bergizi. Di Kudus dan beberapa daerah di Indonesia, jenis keong ini merupakan sumber makanan dengan cara direbus atau diberi bumbu rica-rica. Seperti halnya jenis keong sawah (Bellamnya javanica), jenis keong mas memiliki rasa yang cukup lezat dengan olahan dalam berbagai hidangan antara lain: sate keong, pepes keong, sambel keong, dan aneka menu keong mas lainnya. Selain sebagai makanan, keong mas juga berfungsi sebagai bahan obat. Keong mas di beberapa daerah juga sudah diolah manjadi dendeng, dengan pemberian berberapa bumbu atau rempah-rempah yang cukup digemari. Nursanti (2006) telah melakukan penelitian untuk pendayagunaan keong mas sebagai bahan alternatif pembuatan kecap yang memiliki nilai protein cukup tinggi. Berbagai bentuk olahan keong mas tersebut selain sumber protein yang cukup murah dan terjangkau, juga telah lama dipercaya oleh masyarakat bahwa keong mas dapat digunakan untuk mengobati penyakit kuning ataupun liver (Sihombing, 1999). Pengontrol inang perantara Jenis keong mas merupakan hewan yang dapat dipergunakan untuk mengontrol jenis keong Bulinus sp. dan Biophalaria sp. yang merupakan inang perantara parasit trematoda. Parasit ini dapat menyebabkan para perenang terkena penyakit gatal dan schistosomiasis, penyakit yang telah mengenai pada lebih dari 200 juta penduduk tropis. Kehadiran keong mas, pada sisi ini dapat menghindarkan masyarakat kita akan terkenannya penyakit tersebut.*** Dr. Ir. Sulistiono, Peneliti dan Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB) Pikiran Rakyat :19-4-2007 Ditulis dalam hama & penyakit | & Komentar 8 Tanggapan 1. di/pada April 23, 2008 pada 8:13 am Ririn_Putri. Ternyata keong sangat banyak manfaatnya. 2. di/pada Juni 25, 2008 pada 11:34 am felix. was prospeknya sepertinya bagus, bagaimana yah cara budidayanya??? 3. di/pada September 26, 2008 pada 4:15 pm Keong Mas « Indra Riawan. [...] Ukurannya bervariasi dari yang kecil seukuran biji kelereng hingga sebesar bola pinpong. Yang ukuran besar biasanya dimasak dengan di sate. Sedang yang ukuran kecil dimasak dengan kuah berbumbu dan sedikit santan. Rasanya? kenyal dan seru. Seru, karena untuk memakannya perlu usaha ekstra. Daging keong disedot (di-slurup) hingga terlepas dari cangkang yang telah dilubangi bagian belakangnya. Konon daging keong ini juga bergizi tinggi dan dapat dijadikan obat.(ir/wp) [...] 4. di/pada Januari 6, 2009 pada 12:44 am Rizal. ada gak pembeli telur siput yang ada tahu di luar negeri???, Tlong beri tahu dong??? masalah we tertarik untuk budidayanya?? trus apa manfaat dari telur keong mas itu sendiri?? dapat dijadikan apa saja?? thanks!!! 5. di/pada Januari 18, 2009 pada 4:36 am . FU'AH. assalamualaikum wr wb. wah keren yach. saya mahasiswi perikanan punya harapan waktu penelitian ingin tentang pakan buatan tentang keong mas kira2 bisa gak yach?? Thanks. 6. di/pada Januari 28, 2009 pada 5:52 am atieck. apa keong tidak berbahaya jika dikonsumsi, yang saya dengar di daerah saya katanya mengandung bahan yang berbahaya jika dikonsumsi 7. di/pada Maret 6, 2009 pada 10:24 am peni. saya jg pernah neliti tentang keong.dah nyampe tingkat nasionAL. manfaatnya byk bgt sya dah berhasil neliti 2 manfaat keong mas,msh ada 2 yg mau sy teliti.dlu sy neliti keong mas sejak kelas 1 SMA skrg sy kuliah di UGM. Tunggu penelitian sya yaw….amin. 8. di/pada Maret 22, 2009 pada 4:49 am mail. adakah pemanfaatan canagkang keong di daerah solo dan sekitarnya. klo ada silakan ambil GRATIS di tempat kami. 2. CERITA KECIL TENTANG KEONG EMAS. Oleh: Pusvyta Air di sebuah kali kecil di desa Sorowajan, tepatnya di belakang Yayasan LkiS, tidak terlalu bening, bahkan kadang kering. Saya melihat pada talud kecilnya yang tak lebih dari 50 meter ada beberapa gundukan merah muda menancap lekat. Entah berapa jumlah pastinya. Lalu di sekelilingnya bergelimpangan keong-keong kuning kecoklatan, banyak pula yang kecil-kecil seperti baru menetas di genangan air sawah di dekat kali itu. Saya jadi ingat sewaktu masih sekolah dasar di Kediri, sekitar tahun 1990-an. Di depan sekolah ada penjual keong mas bercangkang kuning muda, ia membawanya di sebuah bak kecil di atas sepeda onthelnya. Ia selalu mengambil tempat bersebelahan dengan penjual gulali dan sate keong. Berbagai macam barang yang bisa menarik perhatian anak-anak, dijual. Ada ayam broile berwarna-warni, keong laut yang hidup, ikan bertha dan macam-macam lainnya salah satunya keong mas itu. Harga jualnya Rp 300-Rp 1000,- tiap ekor, tergantung ukuran dan kami tidak ingin mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membeli seekor keong meski namanya keong emas. Namun cerita legenda Jawa tentang keajaiban Keong Emas membuat kami semakin tertarik untuk memilikinya. Waktu itu uang saku saya hanya cukup untuk beli dua es batu di jaman itu, hanya Rp 100,-. Ini tak bisa ditawar lagi, orang tua saya guru, dan kami baru pindah rumah, tentu semua anak harus bisa ikut bergotong royong untuk memulihkan kondisi ekonomi keluarga, salah satunya dengan penghematan uang saku. Sekarang, saya tidak tahu berapa uang saku anak-anak sekolah dasar dan jajanan apa saja yang sanggup mereka beli. Dengan jumlah uang saku itu, tidak mungkin membeli barang atau mainan yang aneh-aneh atau yang lucu-lucu. Ya, tentu saja, tidak cukup. Saking tertariknya sama keong, kakak saya bergerilya ke bentaran sungai dan sawah di sekitar jalan pulang dari sekolah menuju ke rumah, karena kami mengira keong itu banyak terdapat di kali-kali kecil. Karena penasaran tidak menemukan sang keong, ia bertanya pada penjual keong itu, “Apa sih nama keong ini?” Waktu itu sang penjual menyebutkan namanya keong emas. Ia juga membanggakan bahwa keong itu berbeda dengan keong-keong yang ada di sungai, keong ini punya warna yang cantik dan bisa jadi penghias akuarium dan membersihkan kaca-kacanya dari lumut. Lalu kami ingat di dekat sekolah ada seorang penjual ikan hias. Saya lupa namanya, tapi sampai sekarang usahanya itu masih terus berjalan. Kami bertanya, apa ada keong emas? Sang pemilik kolam-kolam yang penuh dengan ikan warna-warni itu menjawab, ada, tapi sedang bertelur, jadi tidak dijual. Ia menunjukkan telur keong emas yang berwarna merah muda dan menempel lekat di dinding kolam. Untung saja tidak dijual karena kami memang hanya ingin bertanya. Keesokan harinya, kami tidak pulang bersama, sebab teman-teman perempuan mengajakku pulang bersama dengan jalan yang berbeda. Tapi sesampainya di rumah, di kolam kecil kami, memang benar-benar kecil, hanya 15 x 40 cm. Ada dua ekor keong emas. Ternyata kakakku menemukannya di bentaran sungai bersama teman-temannya. Dia menguntit keluarnya keong dari sarangnya di sungai di dekat rumah seorang teman. Ia tahu ada telur-telur merah muda yang menempel di bebatuan. “Kalau ada telurnya, pasti ada induknya, bukan?” katanya. Namun 15 tahun kemudian, tepatnya beberapa minggu yang lalu, saya dikejutkan sebuah berita di Kompas yang menuliskan tentang keresahan petani akibat hama keong emas. Keresahan ini ternyata terjadi juga di tahun-tahun sebelumnya. Usut punya usut, ternyata keong ini berasal dari Amerika Selatan. Sementara Taiwan, Jepang dan Filipina memperkenalkannya sebagai bahan pakan alternatif untuk ternak di wilayah Asia. Kemudian sampailah ia di Indonesia, banyak pihak yang tertarik untuk membudidayakannya. Sebab banyak yang menduga keong jenis ini berpotensi sebagai sumber protein hewani ataupun sebagai pakan ternak. Banyak surat permohonan ijin membudidayakannya mengalir bagai air ke Kantor Dirjen Perikanan. Tetapi permohonan ijin tersebut, tidak pernah di keluarkan. Karena beberapa waktu sebelumnya, di Filipina, Keong Mas yang dibudidayakan di sana, akhirnya menjadi hama. Ada 4 jenis Keong yang masuk dalam Genus Pomacea sp. Masing-masing dapat dibedakan berdasarkan warna cangkang dan bentuk tubuh. Pertama adalah spesies Pomacea canaliculata, dinamakan begitu karena konde cangkangnya berkanal, cangkangnya kuning kehijauan bergaris hitam. Konde atau susunan rumahnya tinggi, lingkaran kondenya berkanal dalam, kelompok telurnya merah jambu seperti buah Murbei. Kedua, spesies Ampularius canaliculata, warna cangkangnya kuning kehijauan tetapi tanpa pola garis hitam. Konde dan kanalnya tidak dalam. Ketiga, spesies Ampularius insularum, mirip dengan canaliculata, kanalnya dalam dan bentuk kondenya rendah, tetapi warna cangkangnya keemasan. Ampularius sanaliculata dan Ampularius insularum mimiliki kelompok telur berwarna merah jambu atau merah muda. Terakhir, jenis Ampularius Insularus, warnanya kuning bersih keemasan. Kondenya tinggi dan tidak berkanal. Ciri yang menyolok yang membedakannya adalah kelompok telurnya putih dengan sedikit warna merah muda, cenderung sedikit coklat muda. Dari jenis-jenis tersebut, Ampularius sanaliculata dan Ampularius insularum-lah yang menjadi hama padi. Kedua jenis keong ini juga rakus menyantap segala macam daun-daunan, mulai dari daun Selada sampai daun Pepaya. Perkembangbiakannya pun amat pesat, sebab perkawinannya berlangsung setiap hari, siang dan malam tanpa mengenal lelah. Jenis keong mas yang berwarna kuning bersih keemasan lebih lamban. Ia hanya mau menyantap daun-daunan Selada, Kol, Sawi dan Sejenisnya. Perkembangbiakannya pun lamban. Perbulannya induk betina hanya menghasilkan dua kapsul telur saja. Keong itu, di Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan dinamakan siput murbei atau kalimbuai. Binatang ini memakan daun dan batang padi yang masih muda. Populasi yang semakin tak terkendali menjadikannya sebagai hama baru bagi tanaman. Belakangan ini ia bahkan telah menjadi hama tanaman padi yang di anggap sebagai ancaman nasional. Sebab Padi merupakan tanaman strategis. Jika tanaman ini tergangu, maka dampaknya terhadap masyarakat akan sangat besar. Menurut salah seorang Penyuluh senior KIPP Maros, Darwis R, keong ini sangat produktif dalam menghasilkan telur. Satu induk dapat menghasilkan 10 kelompok telur dan mampu bertelur sebanyak 15 kali, sementara 1 kelompok telur dapat menetas hingga 15.000, Jangka waktu penetasannya juga sangat cepat . Keong itu bisa hidup di rawa-rawa yang penuh air maupun di sawah yang kering. Bahkan dalam satu tahun keong ini mampu melewati musim kemarau, berarti dia mampu bertahan dalam keadaan tanah kering selama enam bulan. Berburu Keong Keong emas tidak bisa dibasmi dengan menyemprot pestisida, karena hanya akan sia-sia. Setiap kali disemprot dan sudah mati berikutnya lagi hadir ratusan dan bahkan ribuan keong. Yang paling efektif menurut Darwis adalah mengumpulkan telur-telur keong itu kemudian memusnahkannya. Memusnahkan satu telur sama dengan mematikan 500 sampai 1.500 ekor keong. Selain itu, cara efektif lain adalah mendorong perburuan siput untuk pakan ternak dan ikan. Siput itu bagus untuk pakan itik dan pakan ikan patin, udang dan lele dumbo. Pemusnahan telur lebih muda bisa dilakukan dengan cara merendamnya dalam air, telur akan langsung mati. Pemusnahan telur dapat di lakukan dengan pemasangan patok-patok dari kayu di persawahan. Karena dengan pemasangan patok, Keong lebih memilih meletakkan telur pada patok tersebut dari pada tanaman padi. Semakin tinggi patoknya semakin baik. Kemudian setelah ia meletakkan telurnya pada patok tersebut, barulah di adakan pemusnahan telur. Selain itu ada salah satu model pengendalian keong mas dengan sistem Karantina yang dikembangkan di Desa Samangki Maros. Menurut keterangan Andi Hamzah, salah seorang PPL Kecamatan Simbang, caranya adalah dengan membuat lubang perangkap di pengairan misalnya sedalam 1/2 meter, tepatnya di depan lubang pemasukan air, dan dekat tempat keluarnya air, serta di tempat-tempat lainnya di persawahan yang di anggap strategis. Lubang tersebut ditutup dengan rang. Keong Mas ini memasuki hamparan persawahan dengan dibawa oleh arus air. Lubang itu akan menjadi perangkap baginya. Padi yang paling rawan di serang oleh keong adalah Padi yang berumur antara satu hingga dua minggu, setelah lewat dari itu dan batang padi mulai mengeras, tidak digemari lagi oleh keong. Oleh sebab itu pada saat kondisi padi seperti itu, maka sejumlah keong yang telah di perangkap dapat di kumpulkan dan di lepas di pertanaman padi, karena akan membantu petani dalam melakukan sanitasi lahan persawahan dengan menghabisi rumput-rumputan liar yang dapat mengganggu pertanaman padi. Cara ini rupanya juga diterapkan oleh petani di Sorowajan, di belakang LKiS. Sebab selain telur yang berkumpul di satu tempat yaitu dinding sungai, keong yang ada di sawah terjebak di sebuah lubang air di perbatasan sungai dan sawah. Menurut A.Hamzah, keunikan dari Keong Mas ini sebenarnya dapat di jadikan petunjuk untuk mempelajari curah hujan. Jika Keong meletakkan telurnya agak rendah, maka curah hujan akan rendah, namun jika ia meletakkan telurnya agak tinggi, misalnya 40 cm di atas permukaan sawah, berarti curah hujan pun akan sangat tinggi. Hal itu menjadi langkah antisipasi Keong terhadap kondisi terendam dalam air. Hujan yang terus menerus, akan mengakibatkan Keong juga lama dalam proses bertelur. Sistem pengendalian lain yang di terapkan oleh petani di Simbang adalah dengan memperhatikan Pola Tanam. Sebaiknya padi di tanam pada saat kondisi persawahan macak-macak (berlumpur / debit air tidak tinggi), karena Keong Emas kecil tidak kuat bertahan hidup dalam kondisi seperti ini. Ia sendiri menemukan alternatif pemberantasan keong mas yaitu dengan memasukkan serbuk gergaji yang dari kayu Bayam ke dalam karung lalu di letakkan pada aliran air di sawah. Keong Mas akan berguguran karena getah dari kayu tersebut pedas. Pada musim kemarau, pengendalian hama keong mas ini dapat dilakukan dengan penaburan abu sekam di pinggir pematang, sebab menurut Darwis R (Penyuluh KIPP Maros), pengaplikasian abu sekam mengakibatkan Keong tidak bisa tertutup. Dengan cara-cara di atas di harapkan secara bertahap, Keong Mas dapat dimusnahkan. Sementara pihak yang telah terlanjur membudidayakan, diharapkan dapat mendukung hal ini. Tapi, benarkah semuanya harus dimusnahkan? Saya jadi ingat riwayat seorang sufi yang membuktikan bahwa Allah menciptakan apapun dengan kelebihan atau manfaatnya masing-masing. Ia menguji murid-muridnya untuk mencari barang atau apa saja yang ia anggap tidak bermanfaat di dunia ini. Tapi sang murid tidak menemukannya sama sekali, daun kering yang gugur pun masih memberikan manfaat, menjadikan tanah subur dan gembur, demikian pula bagi keong emas ini, kandungan protein tinggi yang bisa menggemukkan ternak. Sekarang, agar ia tidak menjadi hama yang mengerikan, selain mengendalikan populasinya, perlu dilakukan berbagai penelitian, untuk menemukan manfaat praksis keberadaannya. Kemudian, dari hasil penelitian itu dipilih mana yang paling efektif untuk membuat keong emas ini benar-benar bisa menghasilkan emas. * referensi dari Kompas, 15 Juli 2003 dan Desember 2005 dan http://lateral.4t.com/custom.html 3. HAMA KEONG EMAS JADI SUMBER PENGHASILAN Agribisnis 28-03-2009. *m syafii khairat. MedanBisnis – Tanjungbalai. Keong emas yang selama ini dikenal sebagai hama yang suka menyerang tanaman padi sawah ternyata saat ini menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat di Kecamatan Batuk Bandar Induk Kota Tanjungbalai dan sekitarnya. Keong emas ini laku dijual kepada pengusaha ternak unggas dan petambak di Kota Tanjungbalai. Misran (29), salah seorang warga Kelurahan Sijambi Datuk Bandar Tanjungbalai, Jumat (27/3) kepada MedanBisnis, mengatakan, harga keong emas memang relatif rendah, hanya Rp 250 per kg. Namun, karena mencari dan mengambilnya juga mudah, mengambil keong mas menjadi perkerjaan baru bagi mereka terlebih saat banjir datang. Menurut Misran, untuk mengumpulkan 100 kg keong emas tidak perlu sampai satu hari penuh, begitu pula mengenai peralatan yang diperlukan cukup dengan tangguk. “Jadi dengan banyaknya keong emas yang diperoleh, minimal satu hari pengambil bisa mengantongi uang Rp 25.000,” sebutnya. Menurutnya, keong emas dijadikan sebagai pakan ternak, seperti bebek dan ikan lele dumbo. “Kalau sebelumnya yang digunakan sebagai pakan adalah bekicot, sekarang berubah menjadi keong emas sebab bekicot mulai susah didapatkan,” kata Misran. Sebelum dijadikan pakan, keong emas kata Misran terlebih dahulu direbus, setelah isinya dikeluarkan dari dalam kulit (cangkang) barulah diberikan ke bebek ataupun ikan lele dumbo. 4. SI LELET PERUSAK PADI http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/042007/19/cakrawala/lain01.htm 5. CARA AMAN MENGENDALIKAN KEONG MAS http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/042007/19/cakrawala/lain02.htm 6. SUMBER PAKAN DAN OBAT-OBATAN http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/042007/19/cakrawala/lain03.htm 7. KEONG MAS : SI LELET PERUSAK PADI Keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck) atau dikenal GAS (golden apple snail) sering dianggap biang kegagalan panen padi. Keong mas merupakan salah satu jenis moluska. Selain menjadi hama padi, keong mas sebenarnya juga memiliki potensi ekonomi cukup tinggi kalau bisa memanfaatkannya. Keong ini berasal dari rawa-rawa di Amerika Selatan seperti Brazil, Suriname, dan Guatemala. Pertama kali, keong mas didatangkan dari Taiwan sekitar tahun 1980-an. Tahun 1981, hewan ini diintroduksi ke Yogyakarta sebagai fauna akuarium. Sekitar tahun 1985-1987, hewan ini menyebar dengan sangat cepat dan populer di Indonesia. Mengenal dekat Moluska jenis ini hidup di perairan jernih, bersubstrat lumpur dengan tumbuhan air yang melimpah. Menyukai tempat-tempat yang aliran airnya lambat, drainase tidak baik dan tidak cepat kering. Keong mas dapat bertahan hidup sampai 6 bulan di dalam tanah yang mengalami kekeringan. Hewan ini dapat hidup pada air yang memiliki pH 5-8, serta toleransi suhu antara 18-28 derajat Celsius. Pada suhu lebih tinggi, keong mas makan lebih cepat, bergerak lebih cepat, dan tumbuh lebih cepat. Pada suhu yang lebih rendah, keong mas masuk ke dalam lumpur dan menjadi tidak aktif. Pada suhu di atas 32 derajat Celcius, hewan ini memiliki tingkat mortalitas yang tinggi. Keong ini termasuk hewan berjenis kelamin tunggal. Perkawinan keong mas dapat dilakukan sepanjang musim. Seekor keong mas mampu memproduksi sekitar 1.000-1.200 butir telur tiap bulan atau 200-300 butir tiap minggu. Stadium paling merusak ketika keong mas berukuran 10 mm (kira-kira sebesar biji jagung) sampai 40 mm (kira-kira sebesar bola pingpong). Di awal siklus hidupnya, induk keong meletakkan telur di tumbuhan, galengan dan barang lain seperti ranting dan air pada malam hari. Telur menetas setelah 7-14 hari. Menurut Susanto (1995), keong mas muda yang baru menetas dari telur berukuran 1,7-2,2 mm langsung meninggalkan cangkang telur dan masuk ke dalam air. Dua hari kemudian, cangkang keong tersebut menjadi keras. Keong mas muda berukuran 2-5 mm telah memakan alga dan bagian tanaman yang lunak. Pertumbuhan awal berlangsung selama 15-25 hari. Pada umur 26-59 hari, keong mas sangat rakus mengkonsumsi makanan, sedangkan setelah berumur 60 hari, keong mas siap untuk berkembang biak. Keong mas memerlukan sekitar 3-4 jam pada saat mengadakan perkawinan di daerah yang senantiasa mendapatkan air sepanjang tahun. Keong mas dewasa memiliki cangkang yang berdiameter sekitar 4 sentimeter dan berat 10-20 gram. Pertumbuhan cangkang dipengaruhi oleh ketersediaan kalsium sebagai bahan pembentuk cangkang. Selain itu, lingkungan yang kaya dengan zat-zat makanan akan membentuk cangkang yang lebih besar, tebal dan kuat. Hewan ini dapat hidup 2-6 tahun dengan fertilitas yang tinggi. Hama unggul padi Hewan ini dapat menyerang tanaman padi muda, baik di persemaian maupun bibit yang baru dipindahkan ke sawah. Dengan kepadatan populasi sekitar 10-15 ekor per meter persegi, keong mas mampu menghabiskan padi muda dalam waktu 3 hari jika air sawah dalam keadaan tergenang dan menimbulkan kerusakan yang cukup berat bagi daerah persawahan (Ismon, 2006). Para petani juga kerap kehilangan bibit yang ditanam dan harus menyulamnya kembali. Mulanya keong mas disenangi masyarakat, tapi lama-kelamaan akibat dibiarkan lepas tanpa pengawasan, hewan ini masuk ke sawah dan menjadi hama utama tanaman padi. Tahun 1986, tercatat sekitar 300 hektar sawah irigasi di wilayah Filipina mengalami rusak berat. Tahun 1987 serangan meningkat, menjadi sekitar 9.000 hektare, dan bulan Januari 1990 sudah mencapai 350.000 hektare. Dari 3 juta hektare sawah di Filipina, sekitar 1,2 sampai 1,6 juta hektare terserang keong ini. Pada tahun 1990, sekitar 212 juta Peso diperlukan untuk mengendalikan hama ini. Pada tahun 1989, Badan Pangan Dunia (FAO) menduga bahwa kekurangan hasil panen yang disebabkan hama ini berkisar antara 1-40 persen dari areal sawah di Filipina, sehingga menyebabkan kehilangan produksi cukup besar. Di negeri kita kasus kegagalan panen hampir terjadi di seluruh provinsi, mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi sampai Papua. Di Indonesia khususnya di Kabupaten Lampung Selatan pernah dilaporkan bahwa sampai bulan Juni 1992, serangan keong mas telah mencapai 4.500 hektare dengan rata-rata populasinya antara 2-23 ekor per meter persegi. Menurut Susanto (1995), sejak keong mas dibudidayakan pada tahun 1987 dan diadakan pemantauan sekitar tahun 1990, tercatat 8 provinsi sudah terkontaminasi keong mas. Daerah tersebut adalah Sumatera Utara, Jambi, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Akhir-akhir ini penyebarannya semakin luas, bahkan sampai wilayah Kalimantan, Sulawesi dan wilayah lainnya. Keong mas sangat mengganggu lahan pertanian sehingga disebut hama unggul, karena memakan segala tanaman terutama tanaman padi muda dan bibit. Sumber protein alternatif Dalam pengelolaan populasi keong mas di alam sedikitnya ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai hama padi yang rakus, dan sebagai suatu potensi sumber protein, pakan ternak, ikan, kepiting, udang atau diolah menjadi makanan yang lezat dan berprotein tinggi yang bermanfaat sebagai sumber dana masyarakat. Sudarto (1991) berpendapat bahwa keong mas mempunyai kandungan protein yang tinggi sehingga tidak heran jika di Filipina binatang ini dikembangkan sebagai konsumsi untuk manusia dan ternak. Dharitri (1995), proporsi daging keong mas hanya sekitar 18 persen dari total berat keong mas hidup. Daging keong mas yang mempunyai kadar protein sekitar 54 persen (bobot kering) dapat diberikan langsung kepada ikan atau dapat diolah terlebih dahulu menjadi konsentrat sebagaimana pengolahan produk tepung ikan. Dalam percobaannya terhadap udang (Penaeus monodon), Bombeo-Turuban (1995) membandingkan asam amino esensial daging udang dengan asam amino daging keong mas yang mempunyai essential amino acid index (EAAI) sekitar 0,84. Efisiensi pakan pada budidaya perikanan tergantung dari kesamaan profil asam amino pakan dengan ikan yang diberi pakan tersebut. Untuk keperluan sumber pakan ternak, pakan ikan, bahan makanan, obat-obatan dan untuk kegiatan ekonomi lainnya, pengadaan keong mas dalam jumlah besar dan kontinu sangat mungkin dilakukan, karena hampir semua persyaratan biologis untuk menjadikannya sebagai hewan peliharaan telah terpenuhi. Keong mas dapat hidup di berbagai perairan umum, mempunyai pertumbuhan pesat, reproduksi cepat dan pemeliharaannya relatif mudah termasuk di kolam budidaya.*** Dr. Ir. Sulistiono Peneliti dan Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB). Kemajuan mustahil terjadi tanpa perubahan. Dan, mereka yang tak bisa mengubah pemikirannya tak bisa mengubah apa pun. (George Bernard Shaw, 1856-1950) 8. HAMA KEONG MAS BERPOTENSI MENJADI SUMBER PENDAPATAN PETANI Bogor, Pelita. Keong mas (Pomacea canaliculata) yang selama ini dikenal sebagai hama potensial tanaman padi, jika dikelola dengan baik merupakan komoditas prospektif untuk menambah penghasilan petani dan meningkatkan gizi masyarakat. \"Bahkan komoditas ini layak untuk menjadi komoditas ekspor, terutama ke negara-negara Eropa, Jepang dan Hong Kong,\" kata Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Ir Sulistiono, MSc di Bogor, Jum\'at (13/4). Keong mas, katanya, juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, ikan, udang, sumber makanan berprotein tinggi bagi masyarakat, obat-obatan dan pengontrol inang perantara parasit trematoda yang menyebabkan gatal-gatal. \"Dengan potensi tersebut, keong mas tidak layak disebut sebagai biang kegagalan panen padi. Lebih baik keong mas dikelola untuk dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai sumber ekonomi masyarakat,\" katanya. Keong mas, lanjut dia, lebih baik dianggap sebagai sahabat daripada musuh petani. Mengenai ketersediaan pasok, kata dia, tidak perlu dikuatirkan karena dalam sebulan seekor keong mampu memproduksi 1.000 hingga 1.200 butir telur, tingkat mortalitasnya rendah, dan siklus hidup hanya 60 hari. Sulistiono mengakui, masih banyak petani yang tidak mengetahui nilai ekonomi dan gizi keong mas. Beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya keong mas ini di antaranya, dengan membangun sentra-sentra pengumpul oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), pengembangan pasar ekspor terutama ke Eropa, Jepang dan Hong Kong, membuat contoh-contoh produk olahan keong mas, serta menyebarkan informasi cara mengolah keong mas menjadi produk pakan ternak ataupun makanan bagi masyarakat. Ia mencontohkan, saat ini di Tangerang keong mas dijual oleh pengumpul dengan harga sekitar Rp200 hingga Rp300 per kg, umumnya untuk pakan itik. Namun belum semua daerah memanfaatkan spesies ini meski penyebaran populasinya sudah mencapai hampir seluruh wilayah Indonesia. Keong mas disebut sebagai hama unggul karena memakan segala tanaman terutama tanaman padi muda dan pembibitan. Berdasar data Badan Pangan Dunia (FAO) pada 1989, kekurangan hasil panen padi di Filipina akibat keong mas mencapai 40 persen dari areal sawah. Di Indonesia, kerusakan tanaman padi bahkan bisa mencapai 80 hingga 100 persen dengan kasus terjadi di hampir seluruh provinsi di Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Papua. Kandungan gizi Keong mas diketahui mengandung asam omega 3, 6 dan 9. Dari hasil uji proksimat, kandungan protein pada keong mas berkisar antara 16 hingga 50 persen. Di beberapa daerah, keong mas diolah menjadi berbagai jenis masakan seperti sate, pepes, sambal keong, hingga kecap keong. Masyarakat juga percaya, keong mas dapat digunakan untuk mengobati penyakit lever. \"Namun belum ada pembuktian ilmiah mengenai khasiat ini,\" kata Sulistiono. Selain banyak mengandung protein, hewan dari keluarga moluska ini juga kaya akan kalsium. Penggunaan keong mas untuk pakan itik terbukti mampu menaikkan hasil telur hingga 80 persen. Pemberian pakan sekitar 4,5 persen tepung keong mas pada peternakan sapi potong juga memberikan hasil pertumbuhan yang cukup baik dan tingkat keuntungan paling tinggi dibandingkan pemberian pakan lain. Sebagai pakan ikan, penggantian kandungan tepung ikan menjadi tepung keong mas sebanyak 25 hingga 75 persen memberikan pengaruh cukup baik terhadap laju pertumbuhan harian individu, efisiensi pakan, retensi protein, dan retensi lemak. Ia mengatakan, keong mas juga berperan sebagai pengendali keong lain jenis Bulinus sp dan Biophalaria sp yang merupakan inang perantara parasit trematoda yang menyebabkan penyakit gatal-gatal dan schistosomiasis yang telah menginfeksi lebih dari 200 juta penduduk tropis. (ant/sal) 9. KEONG MAS SEBAGAI NUTRISI ALAMI ALTERNATIF Dimusim hujan saat ini banyak sekali kita jumpai keong mas didaerah persawahan, disatu sisi keong mas dianggap sebagai hama tanaman, tapi disisi lain keong sangat bermanfaat sebagai sumber nutrisi alternatif bagi ternak itik kita. Pada pengembangan ternak itik, keong mas (setelah dicincang) merupakan makanan campuran sebagai sumber protein yang murah. Selain mengandung banyak protein, keong mas juga kaya akan kalsium. Keong mas dapat juga dijadikan tepung, setelah direbus, dikeringkan dan digiling terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan dedak padi dan menir dengan perbandingan masing-masing 3,4 persen, 73,3 persen, dan 23,3 persen (Bagus, 1999). Penggunaan keong mas sebagai makanan itik sebagai sumber protein hewani telah dilakukan sejak tahun 1985 (Kompiang dkk., 1985). Akhir-akhir ini banyak wilayah padi dan wilayah ternak itik seperti halnya di daerah Banten, Jawa Tengah, Riau, dan beberapa daerah di Sulawesi dan Kalimantan telah memanfaatkan keong mas ini sebagai sumber pakan itik. Di Sumatra Selatan, pemberian ramuan keong mas 10% memberikan pertumbuhan yang baik bagi itik pada periode layer (bertelur). Di Pasaman, penggunaan keong mas untuk pakan itik mampu menaikkan hasil telurnya mencapai 80 persen. Pemberikan tepung keong mas pada peternakan ayam broiler juga telah dilakukan oleh Widyatmoko (1996). Tepung tubuh dan cangkang keong mas memberikan nilai pertumbuhan yang cukup baik bagi peternakan ayam. Hal yang cukup mengejutkan bahwa penggunaan tepung yang berasal dari cangkang keong mas juga memberikan nilai pertumbuhan yang bagus. Selain dalam bentuk tepung, silase daging keong mas juga telah terbukti menjadi sumber pakan ternak bagi ruminansia dan ayam buras (BP2TP Sumatra Utara, 2006). Pakan yang berbasis protein keong mas pernah diujicobakan pada peternakan burung puyuh (Coturnix coturnix) dan memberikan pertumbuhan yang baik. Keong mas sebagai sumber pakan ikan dan organisma perairan lainnya saat ini sudah mulai banyak dilakukan oleh berbagai kalangan para pembudi daya. Pada pemeliharaan ikan patin (Pangasius sp.) tepung keong mas sejak tahun 1999 telah diujicobakan. Pada penggantian kandungan tepung ikan menjadi tepung keong mas sebanyak 25-75 persen memberikan pengaruh yang cukup baik terhadap laju pertumbuhan harian individu, efisiensi pakan, retensi protein dan retensi lemak (Sholikhati, 1999). Keong mas yang dipotong-potong kemudian ditaburkan pada kolam ikan patin juga telah dilakukan oleh para petani di Kabupaten Bengkalis. Pemeliharaan ikan patin (Pangasius sp.) di Bengkalis, dengan pakan keong mas memberikan hasil yang cukup baik bagi pertumbuhan ikan tersebut. Pada budi daya ikan nila (Orochromis niloticus), komposisi 50% tepung ikan dan 50% telung keong mas memberikan pertumbuhan yang cukup baik, dengan nilai konversi pakan yang rendah (Abdullah,2000). Di Medan, pakan ikan mas dibuat ransumnya dari keong mas. Dalam pembuatan pakan ikan mas, dapat diperoleh sekitar 170 kg tepung keong mas/minggu.Pada pemeliharaan ikan gabus (Chana striata) yang diberi pakan keong mas memberikan pertumbuhan yang cukup baik. Selain itu, pakan yang dibuat dari keong mas juga telah dilakukan pada pemeliharaan ikan sidat (Anguilla sp.). Penggunaan keong mas untuk pakan Krustase telah dibuktikan pada udang dan kepiting. Pada budi daya udang windu, penggunaan pakan keong mas sudah dilakukan dalam uji coba oleh Bombeo-Tuburan dkk. pada tahun 1995. Pada pematangan gonad kepiting bakau (Scylla spp.) di Pantai Mayangan (Subang) dapat diketahui bahwa pemberian pakan berupa keong mas dapat mempersiangkat sampai 1/3 kali masa pemeliharaan dibandingkan dengan pemberian pakan yang berasal dari ikan. Penggunaan keong mas untuk pakan lobster air tawar telah diujicobakan di suatu universitas di Yogyakarta dan juga telah dilakukan oleh beberapa petani yang membudi daya lobster. 10. KEONG MAS BUAT PAKAN UDANG PALAS (Lampost): Keong mas yang selama ini merupakan hama tanaman dan musuh petani padi, kini justru menjadi sumber penghasilan. Sebab, hama ini laku dijual Rp700--Rp1.000/kilogram. "Sejak sebulan terakhir ini harga keong mas terus naik dan karena itu, kami tertarik menangkapnya karena penampungnya jelas dan dibeli kontan," kata Sarudin, petani padi yang menyambi mencari keong mas, Selasa (17-5), saat ditemui Lampung Post di Desa Siring 20, Palas. Menurut Sarudin, keong mas dibeli pemilik tambak udang windu di kawasan Pematang Pasir, Ketapang, petambak di areal Pasirsakti, Labuhan Maringgai, dan petambak udang windu di Desa Bunut, Sragi. Selanjutnya, keong mas yang dibeli dari petani padi itu dijadikan pakan ikan dan ternak. Caranya dengan direbus lalu diberikan pada udang atau ternak itik. "Pembeli keoang mas banyak, setiap sore kami tinggal timbang dan dibayar kontan. Ini menjadi penghasilan tambahan. Sekarang baik orangtua maupun anak-anak beramai-ramai mencari keong mas untuk dijual," katanya. Menurut Sarudin, seharinya dia bersama anak-anaknya mampu mendapatkan 50--100 kg keong mas. "Kami mencarinya hanya sambilan saja, setelah bekerja dari sawah baru mencari keong mas, ya sekalian membasmi hama juga dapat uang," ujarnya. Sementara itu, turun hujan selama beberapa hari terakhir di Kecamatan Palas dan sekitarnya, juga memberikan kesuburan bagi tanaman petani dan hal ini juga memicu berkembang biaknya keong mas. Sebelumnya, petani padi di sekitar Lampung Selatan amat merisaukan keberadaan hama yang menyantap tanaman petani. Apalagi keong mas ini memiliki perkembangbiakan yang sangat pesat dan telurnya bertahan dalam cuaca panas. Namun, dengan adanya pemanfaatkan keong mas menjadi pakan udang dan ternak itik ini, petani makin bergairah mengumpulkan keong mas yang juga pengganggu tanaman tersebut. n WAN/E-1. ARTIKEL Judul : RERAK DAN SAPONIN MAMPU USIR SIPUT MURBAI Penulis : Elfa Hermawan Kategori : Bioteknologi Tanaman Sumber : Agrotek Abstrak : Ironis memang, Menteri Pertanian pada tahun 1980an ternyata sudah mewanti-wanti agar tidak memelihara keong mas kepada masyarakat. Maklum saja keong ma yang memiliki nama latinnya Pomacea canaliculata L. ini, telah menjadi hama di Filipina, Vietnam, dan negara lainnya di Asia. Namun apa yang terjadi, pada tahun 1981 keong ini mulai dipelihara. Awalnya memang keong yang berasal dari rawa-rawa di Amerika Selatan ini di rilis sebagai fauna akuarium. Dan sebagian pebisnis pun memprediksi bahwa keong ini mempunya peluang besar untuk diekspor. Beberapa bulan setelah dirilis, di daerah Jogyakarta, budidaya keong pun mewabah di Indonesia. Dalam perjalanannya, budidaya keong pun ternyata bukan saja dilakukan di aquarium saja, tetapi juga di kolam-kolam. Inilah ihwal dari wujud keong mas menjadi hama yang menakutkan bagi petani di Indonesia. Dari kolam-kolam ini akhirnya, siput murbai -nama lain dari keong emas- pun mulai menyebrang ke sawah. Semenjak tahun 1990 perlahan-lahan keong mas ramai diberitakan telah menyerang padi. Luas penyebaran pun terus meningkat, hingga tahun 2004 luas serangan di seluruh Indonesia telah mencapai lebih dari 16.000 hektar. Ditinjau dari begitu luasnya areal yang diserang, menurut Hendarsih Suharto seorang peneliti hama dan penyakit dari Balai Besar Penelitian Padi, keong mas pun bisa dikatergorikan sebagai hama utama. “ Sebab luas serangannya lebih luas dari rata-rata serangan tungro dan blas,” ungkap Hendarsih kepada Elfa Hermawan dari Agrotek. ======== [agromania] Re: Musuh Alami Keong Mas bhuana.swadarma Mon, 11 Aug 2008 18:17:08 -0700 Dear Bp. Sandi Terima kasih atas penjelasannya, benar sekali apa yang bapak paparkan itu, saya ingin sekali mendapatkan musuh alami keong tersebut karena mengingat jika kita terus menerus bergantung pada obat kimia maka akan membahayakan kita sendiri, saya sekarang sedang mencoba menerapkan sistem organik dengan menghilangkan 100 % penggunaan bahan kimia dari mulai pupuk hingga obat-obatan, lahan yang saya uji cobakan masih kecil ( 3000 M2 ) karena adanya kekhawatiran rugi jika gagal. kendala awal yang saya hadapi sekarang adalah Keong. mudah - mudahan jika bapak maupun rekan - rekan sudah mengetahui musuh alami ( dalam bentuk mikroba ) tersebut bisa langsung diberi kabar. Terima kasih atas respon dan advise nya. Thank you very much Regards Bhuana ----- Original Message ----- From: sandi nugroho To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, August 11, 2008 7:29 AM Subject: Musuh Alami Keong Mas Dengan hormat, Keong mas merupakan salah satu hama penting pada tanaman, hal ini disebabkan serangan keong mas (pada fase vegatatif or tanaman muda) dapat menyebabkan tanaman rusak atau mati. Sejak tahun 1990 hingga saat ini saya banyak membantu petani padi sawah dalam kegiatan penyuluhan pertanian. Berdasarkan pengalaman selama ini, keong mas yang ada pada saat ini sudah mengalami perubahan genetik (keong mas yang ada saat ini berbeda secara biologi dengan keong mas dahulu). Hal ini ditandai oleh adanya semacam taring or gigi yang lebih besar dibandingkan dengan keong mas dahulu. Perubahan genetik ini disebabkan oleh banyaknya bahan kimia yang dipakai dalam kegiatan budidaya pertanian mis. pupuk, pestisida maupun varietas tanaman yang dipakai. Hal ini ditambah oleh adanya perubahan alam (anomali alam). Dahulu memberantas keong mas lebih mudah dibandingkan saat ini serta dahulu populasi keong mas tidak sebanyak populasi saat ini. Berdasarkan penjelasan kami diatas, sebetulnya peledakan populasi keong mas disebabkan oleh kurangnya populasi dari musuh alami keong mas sendiri. Sebetulnya musuh alami dari keong mas itu tersedia dialam, tetapi tidak dapat berkembang dengan baik karena faktor-faktor : banyaknya racun yang berasal dari bahan kimia yang dipakai dalam kegiatan budidaya. Sejak mengetahui adanya perubahan genetik dari keong mas, kami sudah mulai melakukan inventarisasi atas mikroba-mikroba atau organisme lain yang mempunyai potensi sebagai musuh alami dari keong mas. Hingga saat ini kami masih belum dapat menentukan suatu organisme (makhluk hidup) yang mempunyai potensi sebagai musuh alami keong mas. Demikian informasi yang dapat kami berikan, atas perhatian dan penerimaannya diucapkan banyak terima kasih. Hormat kami, Sandi Nugroho Kontak : Sandi Nugroho. SP.MSi HP. 0813.1096.2186 [Non-text portions of this message have been removed] [agromania] Re: Musuh Alami Keong Mas bhuana.swadarma Re: [agromania] Re: Musuh Alami Keong Mas Zamroni Taufik ========= en by Rheza Permana Wednesday, 04 March 2009 13:49 Peluang Budidaya Belut Tak heran jika akhir-akhir ini banyak media mengekspos tentang besarnya peluang bisnis budidaya belut. Dan bagi yang terbiasa ‘melek’ di depan internet, mungkin juga tak jarang menemukan sebuah forum yang memperbincangkan tentang gurihnya berbisnis di bidang yang satu ini. Sebenarnya seberapa besar peluang budidaya belut? Mengandalkan belut tangkapan dari alam untuk dipasarkan kembali ternyata sudah bukan sesuatu yang mudah lagi. Pasokan yang didapat dengan cara tersebut lama kelamaan semakin menipis. Berangkat dari kenyataan tersebutlah Ardiyan Taufik, pria dari kota Solo yang telah bergelut dalam bisnis ekspor belut semenjak 4 tahun yang lalu, akhirnya mulai merintis budidaya belut. Ia banyak berhubungan dengan para pengepul di berbagai daerah di Tanah Air untuk kemudian dikumpulkan dan dijual ke luar negeri. Bisnis budidaya belut sendiri dimulai sekitar 1,5 tahun yang lalu (awal tahun 2006).Berdasarkan pengalaman bisnis budidayanya, menurut Ardiyan budidaya belut terbilang tidak sulit. Pebisnis yang ingin serius menekuni budidaya belut hanya dituntut untuk intens dalam hal perawatan dan pemberian pakan. Sementara dalam pemberian pakan pun, kata Ardian, pakan belut termasuk simpel. Pakan belut itu tidak berhubungan dengan pabrik. “Pakannya bisa keong mas atau bekicot. Jadi tidak tergantung pada pakan hasil pabrik,” ujar Ardiyan. Berdasarkan hitung-hitungan biaya operasional, biaya pakan tersebut menurut Ardiyan hanya menggunakan 15%-20% dari biaya operasional. Jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan komoditas perikanan lain yang biaya pakannya menelan hingga 60% dari biaya operasional. Hanya saja menurut Ardiyan, banyak peternak pemula yang belum mengetahui seluk beluk membudidayakan komoditas yang satu ini. Biasanya para pemula akan bersemangat hanya sekitar 1 hingga 5 minggu di awal bisnis budidayanya. Selanjutnya mereka mengira bahwa usaha tidak berhasil karena tidak melihat tanda-tanda kehidupan ternak di siang hari. Padahal belut memang tidak aktif seperti produk perikanan lainnya. “Belut ini hewan malam, dan nyaris tidak kelihatan, tidak seperti ikan,” ujar Ardiyan. Berminat budidaya belut, pada dasarnya modal menurut Ardiyan bukanlah yang utama. Jika calon pebisnis memiliki kolam semen, atau bahkan jika tidak ada bisa menggunakan kolam terpal. Sementara untuk bibitnya calon pebisnis bisa memulai dengan berusaha mendapatkan bibit dari sawah. Bibit belut bisa lebih mudah didapatkan di sekitar pertanian organik. Jika tidak bisa didapat dengan cara gratis, sambung Ardiyan, bibit belut sawah bisa didapat dengan harga sekitar Rp25.000/kg. Jika dibudidayakan secara intens, bibit belut berukuran sebesar rokok akan membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 6 bulan untuk bisa dipanen untuk kemudian dipasarkan. Pilihannya ada pada pebisnis sendiri. Jika ingin dipasarkan secara lokal, biasanya waktu 3, 4 atau 5 bulan cukup untuk budidaya. Sementara untuk pasar ekspor biasanya akan memakan waktu 6 bulan. Bicara harga jual juga menarik. Dari hasil panen, Ardiyan bisa mematok harga sekilo belut isi 10 seharga Rp15.000 untuk pasar lokal, bahkan bisa mencapai Rp18.000 di enuser. Sementara untuk pasar ekspor biasanya sekilo isi 10 dengan harga Rp20.000. Tentang pasar ekspor belut sendiri, Ardiyan juga lebih tahu. “Coba saja lihat Singapura dan Malaysia, mereka darimana mendapatkan belut, kan tidak ada sawah,” ilustrasi Ardiyan. Jadi jika pun ada pihak-pihak yang pesimis dengan tidak adanya pasar ekspor bagi hasil budidaya belut Tanah Air, menurutnya harus dibuktikan sendiri. Hanya saja pebisnis yang benar-benar menekuni budidaya sekaligus pemasaran seperti Ardiyan, tentu saja tak bisa hanya mengandalkan modal dan ketekunan saja. “Siapa saja bisa berjualan, tapi tentu saja untuk menembus tempat yang dituju Kita harus mengembangkan relasi,” tutur Ardiyan. (SH) Comments (0) Last Updated on Sunday, 03 May 2009 00:02 ========= Bisnis Beternak Bekicot / Siput / Keong Mas Labels: Beternak Posted by Imam Syamsudin on Tuesday, January 20, 2009 at 6:13 PM BISNIS & INFO BISNIS FORMULA BISNIS, MENGATASI KRISIS Bisnis Beternak Bekicot / Siput / Keong Mas Bisnis Tanpa Modal Untuk postingan saya kali ini, Sebenarnya saya ingin ngasih informasi kepada para pembaca sekalian. Terutama sekali bagi para pembaca yang berasal dari desa. Tidaklah diperlukan merantau kekota tanpa membawa modal apapun. Jadi lebih baik mencoba bisnis ini. Atau bisnis-bisnis yang lain yang tanpa modal bisa dijalankan, saya pernah posting juga tentang bisnis tanpa modal ini, tetapi temanya lain. Silahkan dicari di kategori. Bahwa sebenarnya bisnis ini sangat relative kecil modalnya. Bahkan mungkin bisa tanpa modal sama sekali. Ingin tahu ceritanya? Apakah mudah bisnis beternak Bekicot ini? Bagaimana cara memulainya? Bagaimana analisa keuntungannya? Tidak ada yang namanya bisnis tanpa mengalami proses apapun kalau ingin sukses. Begitu juga bisnis yang satu ini. Bisnis ternak Siput ini sebenarnya sangat sederhana prosesnya. Dan untuk memulainya relative mudah. Diperlukan usaha keras diawal, lalu anda bisa sedikit santai setelah mendapatkan banyak siput untuk menjadi induk. Cara memulainya silahkan cari sebanyak-banyaknya siput. Anda bisa mendapatkannya secara gratis di sawah atau di empang yang banyak rumputnya. Setelah terkumpul banyak jangan dijual atau dimasak. Karena kalau disate enak sekali tuh, Saya sangat suka. Eh --eh – jadi ngelantur nih. Kembali lagi ke topic, setelah terkumpul siput-siput itu anda bisa letakkan di kandang yang aman. Dan anda kasih makan daun-daunan, jangan lupa tempatnya agak lembab. Mudah sekali untuk ngasih makan ternak yang satu ini. Tanpa modal, alias gratis tis bisa anda beternak bekicot ini. Mengenai harga kalau saya beli sate bekicot Rp 2000,- isinya sekitar 10 siput. Jadi satu sekitar Rp.200. Cukup mahal tetapi selalu laku saja karena enak. Mau mencoba rasanya? Analisa keuntungannya sangat dahsyat. Bekicot selain bisa disate, juga mahal harganya kalau untuk campuran pakan ternak. Karena gizinya bagus. Bekicot termasuk mahal. Karena jarang sekali yang beternak bekicot ini. Jadi anda merupakan orang yang beternak tanpa saingan yang berat, sampai tahun-tahun mendatang. Jadi prospeknya sangat bagus sekali. Silahkan dicoba. Salam sukses bagi semua yang ada di desa. Tolong kalau ditempat anda bekicotnya banyak, saya bisa dikasih satenya. Suka sekali sih h--he--,, Apa anda juga suka Sate Bekicot? Salam bagi yang suka. 3 comments: sekolahseks said, iya..kita memang dituntut kreative di zaman yg serba susah ini ... bekicot atau siput pantas di coba untuk dibisniskan.. blog ini isinya macem-macem yach.. lumayan bisa buat tambah informasi temani sarapan pagi. informatif dan menarik. Saya akan menyimpan link blog ini.. terima kasih update terus bos ! http://sekolahseks.wordpress.com on January 20, 2009 6:39 PM Syamsudin said, SILAHKAN DI LINK TERIMA KASIH TLAH BERKUNJUNG on January 21, 2009 3:10 AM Joko Susilo said, Blog ini memang penuh dengan ide bisnis. Bagi yang kebingungan mau bisnis apa, blog ini bisa membantunya. Keep ACTION! on January 21, 2009 6:19 AM PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PEMANFAATAN KEONG MAS SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI KEDELAI DALAM PEMBUATAN KECAP Bidang Kegiatan : PKMK Diusulkan Oleh : Dian Ika Noor R. : 4350405514 Ria Asterina S. : 4350405521 Rini Setyowati : 4350505532 FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2008 HALAMAN PENGESAHAN USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA 1 Judul Kegiatan : Manisan Terong Sebagai Alternatif Serat Instant Untuk Mengatasi Konstipasi 2 Bidang Kegiatan : ( ) PKMP ( x ) PKMK ( ) PKMT ( ) PKMM 3 Bidang Ilmu : ( ) Kesehatan ( ) Pertanian ( ) MIPA ( ) Teknologi dan Rekayasa ( ) Sosial Ekonomi ( x ) Humaniora ( ) Pendidikan ( ) PKMM 4 Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap : Dian Ika Noor Rahmawati b. NIM : 4350405514 c. Jurusan : Kimia S1 d. Universitas/Institut/Politeknik : Universitas Negeri Semarang e. Alamat rumah dan no telp : Gondang Manis Bae Kudus 085226174828 f. Alamat email : dee_ika06@yahoo.co.id g. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 2 orang 5 Dosen Pendamping a Nama Pendamping : Drs. Sukirno Apt b NIP : 13051765 c Alamat rumah : Jl. Pasir Mas II/64 Semarang 6 Biaya Kegiatan Total : d Dikti : Rp. 5.995.000,- e Sumbangan Lain : 7 Jangka waktu Pelaksanaan : 4 bulan Semarang, 23 September 2008 Menyetujui Ketua Pelaksana Kegiatan Ketua Jurusan/Program/Prodi/ Pembimbing Unit Kegiatan Mahasiswa (Drs. Sigit Priatmoko, Msi) (Dian Ika Noor Rahmawati) NIP : 131965839 NIM : 4350405514 Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Dosen Pendamping Universitas Negeri Semarang (Drs. Masrukhi, M,Pd) ( Drs. Sukirno Apt ) NIP : 130814789 NIP : 13051765 A JUDUL PROGRAM PEMANFAATAN KEONG MAS SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI KEDELAI DALAM PEMBUATAN KECAP B LATAR BELAKANG MASALAH Keong mas atau siput murbai (Pomacea canaliculata Lamarck) merupakan hewan lunak yang lebih dikenal sebagai hama tanaman padi dibanding sebagai bahan pangan yang berprotein tinggi. Siklus hidup yang pendek, keperidian tinggi dan toleransi yang luas terhadap lingkungan membuat hewan ini mampu bereproduksi dengan cepat dan kosmopolit. Aksi keong mas sering kali mengakibatkan petani rugi terkait dengan pengerusakan tanaman yang dilakukannya. Akhirnya sebagian besar petani menggunakan moluskisida yang merusak lingkungan untuk membasmi keong mas. Padahal selain mahal dan merusak lingkungan moluskisida tidak efektif pada pemakaian jangka panjang. Selain secara kimiawi petani pada khususnya telah menerapkan pemberantasan secara biologis dengan memanfaatkan keong-keong dewasa sebagai pakan ternak maupun konsumsi manusia. Pada kenyataannya langkah biologis ini kurang efektif, terbukti dengan riuhnya pemberitaan tentang kerusakan-kerusakan komoditas pertanian akibat serangan siput murbei. Rendahnya apresiasi masyarakat diduga sebagai penyebab kurang efektifnya pemberantasan keong mas cara lama. Hal ini karena nilai jual keong mas yang rendah dan hasil olahan keong mas yang menjijikan (www.hupelita.com). Keong mas, juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, ikan, udang, sumber makanan berprotein tinggi bagi masyarakat, obat-obatan dan pengontrol inang perantara parasit trematoda yang menyebabkan gatal-gatal. Penggunaan keong mas untuk pakan itik terbukti mampu menaikkan hasil telur hingga 80 persen. Pemberian pakan sekitar 4,5 persen tepung keong mas pada peternakan sapi potong juga memberikan - hasil pertumbuhan yang cukup baik dan tingkat keuntungan paling tinggi dibandingkan pemberian pakan lain (www.hupelita.com). C PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah yang dimunculkan adalah sebagai berikut: 1 Apakah kecap keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck) layak dan aman untuk menggantikan kecap kedelai dalam penambah citarasa dalam masakan? 2 Apakah kecap keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck) bernilai ekonomis? D TUJUAN PROGRAM Adapun tujuan yang ingin dicapai dari produk yang dihasilkan adalah sebagai berikut: 1 Mengetahui kecap keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck) untuk mengganti kecap kedelai. 2 Mengetahui cita rasa kecap keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck). 3 Mengetahui keekonomisan kecap berbasis keong mas. E LUARAN YANG DIHARAPKAN Dengan adanya program kreatifitas mahasiswa, diharapkan luaran program, yaitu : 1 Tumbuhnya jiwa wirausaha mahasiswa sehingga dapat memanfaatkan keong mas bukan sebagai hama melainkan sumber makanan yang bergizi tinggi. 2 Bermanfaat bagi sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan kewirausahaan. 3 Masyarakat luas dapat merasakan manfaat penelitian ini. F KEGUNAAN PROGRAM 1. Dapat meningkatkan kesejahteraan para petani pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. 2. Mengurangi pencemaran lingkungan akibat penggunaan moluskisida. G GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA Keong mas yang cukup enak dimakan ternyata mengandung protein yang tinggi. Keong mas dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat kecap. Produk ini belum diusahakan secara ekonomis. Pemanfaatan keong mas menjadi bahan pangan akan menambah penganekaragaman jenis bahan pangan bergizi tinggi dan mempunyai nilai jual(www.warintek.ristek.go.id). Pemanfaatan keong mas sebagai bahan makanan belum begitu optimal sehingga penulis mencoba memunculkan kreasi baru untuk mengolah menjadikan kecap keong mas sebagai peluang usaha baru. Kecap merupakan bahan tambahan pada suatu masakan yang digunakan sebagai penambah citarasa. Biasanya kecap terbuat dari kedelai. Sekarang harga kedelai dipasaran semakin meningkat oleh sebab itu penulis menggunakan bahan dasar keong mas sebagai kecap. Pada umumnya keong mas hanya dianggap sebagai hama padi yang sangat merugikan bagi petani di seluruh Indonesia. Namun belum semua daerah memanfaatkan spesies ini meski penyebaran populasinya sudah mencapai hampir seluruh wilayah Indonesia Keong mas disebut sebagai hama unggul karena memakan segala tanaman terutama tanaman padi muda dan pembibitan. Di Indonesia, kerusakan tanaman padi bahkan bisa mencapai 80 hingga 100 persen dengan kasus - terjadi di hampir seluruh provinsi di Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Papua (www.hupelita.com). Penelitian ini mencoba untuk membuat kecap dengan bahan dasar keong mas. Dengan tujuan untuk memanfaatkan hama keong mas yang menggangu para petani agar dapat memiliki nilai ekonomis lebih tinggi. Selanjutnya juga untuk mengetahui penampilan, aroma, warna, dan tekstur kecap keong sawah dan mengetahui persepsi masyarakat tentang keyakinannya terhadap kandungan nutrisi kecap keong mas yang dihasilkan serta menggali informasi tentang peluang pengembangan kecap keong mas sebagai salah satu komoditas yang memiliki nilai jual. Kandungan Nutrisi Keong Mas per 100 gram NO Kandungan Banyaknya 1. Enersi makanan 83 kalori 2. Protein 12,2 g 3. Lemak 0,4 g 4. Karbohidrat 6,6 g 5. Abu 3,2 g 6. Fosfor 61 mg 7. Kalium 40 mg 8. Natrium 17 mg 9. Ribovlavin 12 mg 10. Naicin 1,8 mg Sumber: (www. applesnail .net ) A - B METODE PELAKSANAAN PROGRAM 1. Alat dan Bahan _ Bahan-Bahan Pembuatan Kecap Keong 1 Keong sawah 650 gram 2 Gula merah 8 ons 3 Keluwak 40 gram 4 Garam 225 gram 5 Bawang putih 120 gram 6 Lengkuas 140 gram 7 Salam dan serai 130 gram 8 Ketumbar 50 gram 9 Kunyit 80 gram 10 Vetsin 50 gram 11 Pekak 5 gram 12 Gelatin 5-10 gram 13 Parutan bonggol atau daging buah nanas 100 gram _ Alat-Alat 1. Alat penggorengan 2. Pisau 3. Panci dan alat penggaduk 4. Parutan 5. Alat penghancur bumbu 6. Penyaring dan kain saring 7. Botol dan tutup yang sudah disterilkan 8. Timbangan 9. Sterilizer 1 Prosedur pembuatan kecap keong sebagai alternatif pengganti kecap kedelai: 2 Cuci keong sawah, kemudian rebus. Buang kulitnya, timbang dagingnya sebanyak 300 gram. 3 Parut bonggol atau daging nanas sebanyak 100 gram, kemudian campurkan ke dalam daging keong sawah tadi. 4 Bubuhi campuran tersebut dengan garam halus 60 gram dan gelatin. 5 Setelah itu disimpan selama 3 hari sambil dipanaskan pada suhu kira-kira 50o C( di atas api kecil dengan tanda air mulai keluar asap). 6 Tambah air sebanyak 1,2 liter, kemudian masak pada suhu 70o-80o C (ditandai dengan adanya gelembung-gelembung kecil). 7 Setelah itu, saring dan ampasnya dipisahkan dari filtrate yang berupa cairan kental. 8 Sangrai pekak dan ketumbar untuk menimbulkan aroma. 9 Kupas bawang putih dan hancurkan, kemudian goreng bersamasama keluawak yang telah dihancurkan. 10 Keluwak dikupas dan dipilih yang berwarna hitam mengkilat, tanpa bau yang menyimpang. 11 Hancurkan lengkuas dan kunyit kemudian campur dalam masakan kecap. 12 Hancurkan gula merah kemudian tambahkan ke dalam kecap. 13 Masak kecap selama 15 menit pada suhu 70o-80o C(ditandai dengan gelembung-gelembung kecil). 14 Setelah itu saring dengan kain saring. Pisahkan ampasnya. Tampung filtrat yang berupa cairan kental. 15 Masukkan filtrat ke dalam botol kemudian tutup. 16 Lakukan proses pasteurisasi untuk botol-botol yang sudah diisi kecap. 1 Diagram Alir Pembuatan Kecap Keong Mas A JADWAL KEGIATAN No Kegiata eBulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1. Tahap persiapan materi dan pemantapan konsep kegiatan X X 2. Tahap pelaksanaan a Perencan aan kerja b Persiapa n alat dan X X X X X baha n c Pelaksan aan kegia tan X X X X X X 3. Evaluasi X X 4. Penyusunan laporan X X A NAMA BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA B Ketua Pelaksana Program C Nama Lengkap : Dian Ika Noor Rahmawati D NIM : 4350405514 E Fakultas/Program Studi : FMIPA/Kimia S1 F Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Semarang G Waktu untuk kegiatan PKM : 15 Jam /minggu H Anggota Pelaksana I Nama Lengkap : Ria Asterina S J NIM : 4350405521 K Fakultas/Program Studi : FMIPA/Kimia S1 L Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Semarang M Waktu untuk kegiatan PKM : 12 Jam /minggu N Anggota Pelaksana O Nama Lengkap : Rini setyowati P NIM : 4350405532 Q Fakultas/Program Studi : FMIPA/Kimia S1 R Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Semarang S Waktu untuk kegiatan PKM : 12 Jam /minggu A NAMA DAN BIODATA DOSEN PENDAMPING B Nama Lengkap dan Gelar : Drs. Sukirno C Golongan Pangkat dan NIP : 13051765 D Jabatan Fungsional : Lektor Kepala E Jabatan Struktural : - F Fakultas/Program Studi : FMIPA/Kimia S1 G Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Semarang H Bidang Keahlian : DKA/ Kimia Farmasi/ Kimia Pangan a Waktu Untuk Kegiatan : 6 Jam /minggu A BIAYA B Biaya bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat keong mas. Keong mas yang akan dibuat sebanyak 10 Kg _ 10 Kg keong mas : 10 x Rp. 3000 : Rp. 30.000,- _ 10 Kg gula merah : 10 x Rp. 8000 : Rp. 80.000,- _ Keluwak : Rp. 5.000,- _ Garam : Rp 5.000,- _ Bawang putih : 2 x Rp 7.500 : Rp 15.000,- _ Lengkuas : ½ kg x Rp10.000 : Rp 5.000,- _ Salam dan serai : Rp 7.500,- _ Ketumbar : ¼ kg x Rp 10.000 : Rp 2.500,- _ Kunyit : ¼ kg x Rp 10.000 : Rp 2.500,- _ Pekak : Rp 5.000,- _ Gelatin : Rp 100.000,- _ Nanas : 1 kg x Rp 7.500 : Rp 7.500,- 1 Biaya alat-alat yang diperlukan untuk membuat kecap keong mas. _ Panci masak : 5 x Rp. 50.000 : Rp. 250.000,- _ Sendok Besar : 5 x Rp. 10.000 : Rp. 50.000,- _ Sendok Kecil : 10 x Rp. 2000 : Rp. 20.000,- _ Mangkuk besar : 5 x Rp. 20.000 : Rp. 100.000,- _ Kompor : 5 x Rp. 300.000 : Rp. 1.500.000,- _ Cobek dan ulekan : 5 x Rp. 50.000 : Rp 250.000,- _ Pisau : 10 x Rp. 5000 : Rp. 50.000,- _ Parutan : 5 x Rp 10.000 : Rp 50.000,- _ Timbangan : 1 x Rp 100.000 : Rp 100.000,- _ Sterilizer : 1 x Rp 750.000 : Rp 750.000,- _ Penyaring : 5 x Rp 10.000 : Rp 50.000,- _ Botol : 10 x Rp 1000 : Rp 100.000,- _ Krat botol : 4 x Rp 125.000 : Rp 500.000,- _ Plastik Kemasan : 10 pak x Rp. 2000 : Rp. 20.000,- _ - _ Kardus Kemasan : 10 pak x Rp. 2000 : Rp. 20.000,- _ Pita : 10 m x Rp.1000 : Rp. 10.000,- _ Hiasan : 2 dus x Rp.10.000 : Rp. 20.000,- _ Tabung gas : 5 x Rp 75.000,- : RP 375.000,- 1 Biaya Transportasi Pemasaran Kecap Keong Mas. _ Pemasaran ke koperasi kampus : Rp. 20.000,- _ Pemasaran ke kos di sekaran : Rp. 30.000,- _ Pemasaran ke warung di sekaran : Rp. 30.000,- _ Pemasaran ke toko di sampangan : Rp. 50.000,- _ Pemasaran ke daerah luar Semarang : Rp. 200.000,- 1 Biaya Tambahan _ Kertas : Rp 70.000,- _ Label : Rp 10.000,- _ Pengemasan produk : Rp 500.000,- _ Biaya listrik : Rp 250.000,- _ Biaya telephon : Rp 150.000,- _ Biaya PDAM : Rp 30.000,- _ Tinta printer : Rp 25.000,- 1 Biaya Penyusunan Laporan _ Laporan : Rp 100.000,- _ Dokumentasi : Rp 50.000,- TOTAL BIAYA : Rp 5.995.000,- A - B DAFTAR PUSTAKA Anonim. (2008 ). Kecap Keong Sawah. Diambil dari warintek ristek pada tanggal 22 September 2008 dari http://www.warintek.ristek.go.id/ pangankesehatan/pangan/piwp/kecap_keong_sawah.pdf Anonim. (2008 ). Stik Ketan Berbasis Telur Keong Mas Sebagai Aplikasi Ekoefisien yang Bergizi. Diambil dari indoskripsi pada tanggal 23 September 2008 dari http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugasmakalah/ tugas-kuliah-lainnya/stik-ketan-berbasis-telur-keong-massebagai- aplikasi-ekoefisiensi-yang-bergi Anonim. (2008). Hama Keong Mas Berpotensi Menjadi Sumber Pendapatan Petani. Diambil dari hupelita pada tanggal 23 September 2008 dari http://www.hupelita.com/baca.php?id=28563 Anonim. (2008 ). Hama padi. Diambil dari suara merdeka pada tanggal 23 September 2008 dari http://www.suaramerdeka.com/smcetak/ inde .php? fuseaction= beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=4147 Anonim. (2008 ). Dijual Tutut Keong Sawah Makanan Tradisional. Diambil dari indonetwork pada tanggal 23 September 2008 dari http://indonetwork.co.id/kimberly_ina/834986/dijual-tutut-keong-sawahmakanan- tradisional.htm

No comments:

Post a Comment

Thank you, for your comment.

Post a Comment